Ini Alasan Pelajar di Surabaya Enggan Naik Angkot

Ini Alasan Pelajar di Surabaya Enggan Naik Angkot

Rois Jajeli - detikNews
Kamis, 12 Sep 2013 14:44 WIB
Ini Alasan Pelajar di Surabaya Enggan Naik Angkot
Surabaya - Pelajar SMA di Surabaya enggan naik angkutan kota (angkot) karena dinilai kumuh dan tidak on time serta memakan waktu lama. Mereka lebih memilih mengendarai sepeda motor, mobil atau diantar orang tuanya.

"Takut kalau naik angkot. Takut pemerkosaan, perampasan seperti yang diberitakan di teve," kata salah satu siswi SMA Negeri 1 Surabaya kepada detikcom di sekolahannya, Kamis (12/9/2013).

Saat berangkat maupun pulang sekolah, siswi kelas XI IPA 2 ini mengaku diantar orang tuanya menumpang mobil. Dari rumahnya di kawasan Ketintang, ia tidak tahu angkot apa saja yang mudah dijangkau hingga ke sekolahan.

"Saya nggak tahu apa saja (angkot) jurusannya. Dari pada tersesat, lebih baik diantar," terangnya.

Angkutan umum di Surabaya dinilai tidak aman dan jorok juga disampaikan salah satu siswi kelas XI IPA SMA Negeri 2 Surabaya. "Takut nggak aman dan jorok. Ada bangku yang lubang-lubang," tuturnya.

Untuk perjalanan dari rumahnya di kawasan Darmo Indah, Tandes, ia diantarkan orang tuanya mengendarai mobil.

"Naik angkot biasanya waktunya lama. Kalau bawa kendaraan sendiri kan lebih cepat dan efisien," terangnya.

Sementara itu, siswa kelas XI SMA Negeri 2 yang tinggal di kawasan Juanda Sidoarjo, mengakui kadang diantar kadang mengendarai sepeda motor.

"Kalau naik angkot jaraknya jauh dan oper (angkot) banyak, serta kumuh," terangnya.

Dia mengaku jika tidak ada yang mengantar, dirinya nekat membawa sepeda motor sendiri. Padahal, tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM).

"Awalnya takut mengendarai. Tapi karena sudah diizinkan dan lama-kelamaan sudah berani," tandasnya.

(roi/fat)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini