Namun, hingga kini Jamali memilih mempertahankan ternak sapinya yang sudah ditaksir memiliki bobot di atas 1.000 Kg atau 1 ton.
"Saya eman karena usia ternaknya masih muda, yakni 2,3 tahun. Jadi peluang untuk terus berkembang masih ada," kata Jamali di rumahnya di Desa Tanjungkamal Kecamatan Mangaran, Kamis (12/9/2013).
Menurut bapak dua anak itu, tawaran yang diterimanya bertahap sejak dari Rp 30 juta, Rp 44 juta, hingga tawaran tertinggi yakni Rp 56 juta. Tawaran setinggi itu datang dari penggemar ternak sapi jumbo asal Surabaya, beberapa waktu lalu. Sapi milik Jamali jadi dikenal, karena pernah mengikuti even kontes ternak tingkat Jawa Timur di Blitar, bulan Juni lalu.
"Waktu di kontes itu bobotnya 980 Kg, paling berat kategori calon kreman hasil IB. Tapi sapi saya didiskualifikasi karena dikira ada perlakuan lebih (gelonggong, red). Padahal tiap harinya ya memang besar begitu badannya," tandas Jamali.
Meski gagal menjadi juara, namun ternak sapi milik Jamali tetap menyita perhatian. Terbukti, sejak itu ada beberapa penggemar sapi jumbo yang tertarik untuk membelinya. Jamali sendiri masih berminat untuk memeliharanya, setidaknya sampai selesai digelarnya kontes ternak tingkat Kabupaten Situbondo, bulan Oktober mendatang.
"Mau diikutkan kontes dulu, baru setelah itu mungkin kalau ada yang minat bisa dijual. Tapi, untuk harganya saya belum bisa menentukan. Nunggu sregnya hati setelah kontes saja," tandas Jamali.
(fat/fat)










































