Yang pertama, sampah plastik yang dulu sering terlihat mengambang di pinggiran Kali Bozem, kini jumlahnya sudah berkurang cukup signifikan.
Begitu juga tanaman eceng gondok yang biasanya tumbuh liar, kini rajin dibersihkan petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya. Tiap hari pukul 07.00 WIB, tanaman eceng gondok yang tumbuh liar bergerombol dan menjadi sarang nyamuk dicabuti.
"Tiap pagi petugas DKP yang membersihkan eceng gondok, mulai jam 7 pagi sampai menjelang sore," kata Bambang, warga Tambak Asri gang 5 Bozem Moro Krembangan, Rabu (11/9/2013).
Di samping itu, warga Gadukan, Tambak Asri dan Bozem Moro Krembangan juga telah terbiasa dengan sederet program-program Pemerintah Kota Surabaya terkait lomba-lomba kebersihan seperti green and clean, eco school, dan perlombaan merdeka dari sampah.
"Sudah nggak banjir di sini. Itu ada pompa air dan screen di pintu air. Kalau ada sampah yang lewat, tersangkut di screen lalu diambil petugas DKP," kata Ali Wafa (30) warga Jalan Bozem gang 4.
Maka itu, tak heran bila warga sekitar seakan terbiasa dengan kebiasaan baru menjaga kebersihan. Bisa di lihat, setiap rumah di sepanjang kampung pinggiran Bozem diberi tanaman dalam pot. Warga juga menyediakan tempat sampah umum.
Menurut pantauan detikcom, di pinggiran Tambak Asri Bozem
Moro Krembangan dibangun semacam anjungan. Nah, di bawah anjungan itu merupakan pompa air yang digunakan untuk mengolah supaya limbah rumah tangga tidak bercampur dengan air Bozem.
Di wilayah Gadukan Bozem Moro Krembangan misalnya, meski tergolong kampung kecil dengan padat populasi penduduk, kampung ini terpantau rapi. Tidak ada sampah berserakan, maupun kandang ayam di halaman rumah.
Bahkan, warga juga memasang poster larangan membuang sampah sembarangan. Poster itu bertuliskan 'Area Bozem Dilarang Buang Sampah, Rusak Tanaman, Bangunan Liar, Jemur Pakaian'.
Hal semacam ini pantas dilakukan warga. Pasalnya, warga Gadukan selama 2 tahun ini tengah mengembangkan budi daya ikan lele. Warga membentuk Kelompok Tani 'Cipta Bersama' dengan anggota lebih dari 200 petani.
"Sekali panen, dari benih 1000, kita dapat 900. Kami juga masih pasang surut. Artinya, masih banyak kendala. Tapi alhamdulillah, 2 tahun ini kami bisa panen lebih dari 5 kali," tutur Slamet Hariyadi, Ketua Kelompok Tani 'Cipta Bersama'.
(nrm/bdh)