Penolakan dilakukan karena tidak ada sosialisasi dampak lingkungan dari perusahaan kepada masyarakat terdampak. Lebih dari itu pemberian uang kompensasi dilakukan tanpa melalui kesepakatan musyawarah bersama.
"Belum ada sosialisasi yang jelas terkait pemasangan pipa ini kok sudah mau dipasang. Ya kita tidak mau tanda tangan meski diberi uang," kata Hariyono (36), salah satu warga yang halaman rumahnya dilalui pipa, Rabu (11/9/2013).
Menurut Hariyono, sosialisasi awal memang pernah dilakukan jauh sebelum bulan Ramadan. Dalam pertemuan itu perusahaan hanya menyampaikan rencana akan memasang pipa minyak dari sumur Tapen menuju penampungan di desa setempat.
Namun perusahaan tidak menjelaskan secara lengkap tujuan dan fungsi pipa serta dampaknya bagi lingkungan sekitar. Bahkan hingga kini tidak sekalipun diadakan pembicaraan membahas kompensasi bagi warga.
"Tiba-tiba ada warga yang mengaku sebagai tim pemasangan pipa datang dan memberi uang Rp 150 ribu serta meminta warga tanda tangan," ceritanya kepada wartawan.
"Saat memberikan uang juga tidak menjelaskan uang itu untuk apa. Sedangkan pembentukan tim yang bagi-bagi uang itu sendiri warga juga tidak diundang, jadikan semuanya tidak jelas," sambungnya.
Pemasangan pipa minyak itu sebenarnya telah berjalan sejak 3 minggu lalu mulai dari Sumur Tapen. Pipa ditanam di tepi jalan atau tepat di depan rumah warga. Namun sesampainya di Dusun Wonosari Desa Wonosari, pemasangan dihentikan warga.
"Disini ada sekitar sembilan KK yang menolak. Lainnya sudah di pasang, tapi yang disini belum dipasang pipanya karena belum tanda tangan," imbuhnya.
"Aturan pemasangannya saja tidak dijelaskan, prosedurnya bagaimana terus nanti di tanam seberapa."
Selain tidak adanya sosialisasi, pemasangan pipa sepanjang 5 kilometer itu dikhawatirkan dapat mengganggu drainase. Pasalnya pipa dipasang tepat di saluran pembuangan air.
(bdh/bdh)










































