Tempat-tempat rawan seperti kawasan pesisir di Kenjeran, Jembatan Suramadu, dan hotel-hotel bertarif murah juga menjadi sasaran.
"Bu Risma berpegang, anak-anak ini pemilik masa depan," kata Kasatpol PP Surabaya, Irvan Widyanto saat dikonfirmasi detik.com, Selasa (10/9/2013).
Irvan menuturkan, tak jarang Risma ikut terjun merazia pelajar. Seperti saat razia yustisi di kawasan Darmo Park sebelum Ramadan Agustus 2013. Kala itu Risma melihat sendiri ada beberapa pelajar yang mabuk-mabukan di cafe.
"Saat itu razia pukul 01.00-02.00 WIB. Bu Risma ikut. Kami mengamankan pelajar yang mabuk di kawasan cafe-cafe di Darmo Park," tutur Irvan.
Saat merazia, lanjut Irvan, pihak Satpol PP awalnya memeriksa Kartu Tanda Penduduk (KTP) kepada pengunjung cafe-cafe. Nah, pelajar yang kepergok tadi, tidak dapat menunjukkan KTP.
"Memang mereka (pelajar) tidak memakai seragam. Tapi saat dimintai identitas KTP, mereka tidak punya. Malah yang dikeluarkan adalah kartu pelajar," cerita Irvan.
Razia juga kerap dilakukan ke warnet-warnet yang banyak tersebar di Kota Pahlawan.
Menurut Irvan, konsep razia pelajar di warnet biasanya digelar saat jam-jam sekolah, mulai pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB. Sweeping digelar serentak melibatkan Pemkot Surabaya dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
"Ya, setiap kali ada razia pelajar bolos, kami melibatkan seluruh stake-holder terkait. Mulai dari Satpol PP, pihak kecamatan dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya," tambah Humas Pemkot Surabaya Muhammad Fikser yang dihubungi terpisah.
(gik/bdh)










































