Inovasi pun dilakukan majalah berbahasa Jawa itu. Selain desain majalah yang dipercantik, media yang sudah berusia 80 tahun itu pun mulai merambah ke online.
Alasannya, karena tak sedikit pembacanya yang berdomisili di manca negara.
Pemimpin Redaksi Panjabar Semangat Arkandari Sari mengungkap bahwa awalnya tak pernah punya ide merancang Panjebar Semangat versi online. Namun pada kisaran tahun 2010, ide itu pun muncul setelah redaksi mengalami keterbatasan dana pengiriman majalah ke pelanggan yang berada di luar negeri.
Diakuinya, permintaan pelanggan di Suriname, Belanda dan beberapa kawasan di Amerika lainnya memang ada meskipun jumlahnya tidak besar. Dan karena terlanjur sayang, pelanggan di 3 negara itu rajin protes bila kedatangan majalah legendaris itu tiba terlambat.
Awalnya Arkandari mencoba mengirim 8 edisi langsung setiap 2 bulan sekali ke luar negeri. Langkah itu terpaksa ditempuh untuk meringankan ongkos kirim yang nilainya lebih mahal dibanding harga berlangganan majalah yang diproduksi di Jalan Bubutan, Surabaya, itu.
"Pelanggan di luar negeri suka protes kalau terlambat menerima kiriman. Ya bagaimana, kami harus cari cara," kenang Arkandari, Selasa (3/9/2013).
Pengiriman 8 edisi sekaligus itu hanya berlangsung 2 kali. Selanjutnya, Arkandari pun mulai membentuk tim kecil untuk merancang website Panjebar Semangat walaupun dengan tampilan sederhana.
"Saat itu kan internet sudah cukup meluas. Banyak juga media online. Maka kami beranikan membuat website yang isinya kurang lebih sama dengan versi cetak," tuturnya.
Motto PS yang memiliki makna 'Segala kesewenang-wenangan atau keburukan akan dikalahkan dengan kemuliaan dan keluhuran' dipercaya menjadi magnet kerinduan pribumi Jawa yang banyak merantau di luar negeri.
Arkandari menyampaikan, semangat Panjebar Semangat sampai kapanpun mengajarkan untuk melawan segala bentuk penjajahan dengan sikap bijaksana.
"Sejak pertama didirikan pada masa penjajahan, majalah ini sengaja terbit dan ditulis dalam Bahasa Jawa. Sampai sekarang pun, bahasa daerah yang seolah terlupakan oleh bangsa sendiri, berjuang dengan caranya sendiri. Segala bentuk penjajahan baiknya dilawan dengan sikap bijaksana," pungkas Arkandari yang bangga karena di usia ke 80 tahun, majalah yang dipimpinnya menerima penghargaan rekor Muri itu.
(nrm/gik)











































