Warga Sidoarjo Gelar Upacara Agustusan Tiga Dimensi

Warga Sidoarjo Gelar Upacara Agustusan Tiga Dimensi

Suparno - detikNews
Sabtu, 17 Agu 2013 13:30 WIB
Warga Sidoarjo Gelar Upacara Agustusan Tiga Dimensi
Sidoarjo - Rasa patriotik ditunjukkan warga Desa Kemiri, Sidoarjo dengan menggelar upacara memperingati HUT ke-68 RI. Upacara yang digelar di jalan desa tersebut diikuti oleh hampir 100 warga desa.

Berbeda dengan upacara bendera yang terkesan formal dan kaku. Upacara ala Desa Kemiri berkesan luwes dan fleksibel dengan tidak mengesampingkan makna upacara itu sendiri. Peserta upacara adalah bapak, ibu, remaja, serta para lansia yang mengenakan pakaian ala kadarnya. Karena tak diberi pelatihan formal, maka jalannya upacara diwarnai kesalahan-kesalahan kecil.

Warga Desa Kemiri sendiri menyebut upacara itu sebagai upacara bendera 3 dimensi. Alasannya ada 3 busana yang dikenakan peserta yakni busana zaman kerajaan, zaman perjuangan, dan zaman modern. Busana itu dikenakan saat melakuakn defile yang dilakukan setelah upacara bendera.

Defile pertama mengenakan busana zaman kerajaan. Peserta defile zaman kerajaan melangkah sambil berjalan kaki dengan sopan dan berperilaku baik. Defile kedua mengenakan busana zaman perjuangan. Para pejuang melangkah dengan gagah.

Para pejuang ini melambangkan perjuangan tanpa pamrih, tanpa imbalan, serta rela mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan.

"Jerih payah pejuang ini membuat kita merasakan arti kemerdekaan sekarang ini," ujar salah satu tokoh masyarakat, Suyitno, kepada wartawan, Sabtu (17/8/2013).

Sementara defile ke 3 menggambarkan bagaimana masyarakat modern sekarang. Pada zaman modern ini, peserta defile mengenakan pakaian ala anggota dewan. Baju mereka ditempeli uang sebagai perlambang korupsi yang banyak diperbuat manusia zaman modern.

Masyarakat modern itu digambarkan sudah lupa dengan jasa para pejuang. Mereka yang tak pernah angkat senjata itu dengan seenaknya menikmati kemerdekaan tanpa mereka meraihnya. Yang sayangnya kemerdekaan itu mereka sia-sia kan dengan melakukan korupsi.

"Tak heran jika hukum bisa dibeli, pasal bisa diganti, yang kuatbisa kebal, yang lemah jadi tumbal, pejabat jadi konglomerat, petani tambah melarat, yang biasa dipangan opo, yang luar biasa sing dipangan sopo," lanjut Suyitno.

Upacara ini, kata Suyitno, digelar untuk mengingatkan para generasi muda tentang pentingnya nasionalisme yang saat ini sudah hampir luntur. "Nasionalisme yang luntur contohnya adalah korupsi yang terjadi sekarang ini," tandas Suyitno.

(iwd/fat)
Berita Terkait