Tradisi tahunan yang dikenal dengan "pawai pegon" tersebut menjadi acara yang ditunggu-tunggu warga setiap tahun. Mengapa tidak, dengan pawai pedati masyarakat yang berada dipesisir pantai selatan meyakini bisa mempererat tali persaudaraan. Selain dihiasi dengan janur, Pedati yang ditarik dua sapi itu juga diberi beberapa hasil bumi warga sekitar.
"Acara ini sudah tahunan digelar masyarakat sini, selain bisa menjadi ajang silaturahmi, pawai pedati menyusuri sepanjang bibir pantai watu ulo juga dijadikan ajang wisata keluarga," ujar Surahman salah seorang warga kepada detikcom, Kamis (15/8/2013).
Dari pantauan detikcom di Pantai Watu Ulo, keluarga yang duduk di dalam pedati juga membawa makanan, dan yang menjadi ciri khas adalah ketupat. Ketupat selalu dibawa oleh setiap keluarga masing masing pedati yang nantinya dimakan bersama-sama saat pedati tiba di bibir pantai.
Setibanya di pesisir pantai, satu per satu pedati berhenti dan keluarga yang telah keliling desa dan pesisir pantai turun. "Ternyata sudah sampai di sini, padahal dari tadi sapi jalannya pelan sekali tetapi karena dalam perjalanan begitu gembira jadi tidak terasa," tutur Sumiati yang baru tiba di pesisir Pantai Watu Ulo.
Bersama keluarga lainnya, Sumiati membaur sambil mengeluarkan ketupat yang dibawanya dari rumah. Bahkan sesekali, warga menawarkan ketupat pada keluarga lain meski sedianya juga membawa masakan yang sama.
"Dengan gini khan kita bisa rukun," tambahnya. Tradisi pawai pedati atau dikenal masyarakat pesisir watu ulo dengan pawai pegon selalu digelar, selain ajang silaturahmi lebaran, sekaligus melestarikan kebudayaan masyarakat.
(fat/fat)










































