Kali ini, calon gubernur nomor urut 3 itu menemui warga Desa Kledung, Kecamatan Bandar, Pacitan. Di kampung tempat ayahnya, Siswopranoto, lahir dan dibesarkan itu tak lupa Bambang meminta doa restu untuk memimpin Jawa Timur.
"Bagi kita tentu bangga, kalau ada putera turun dari Kledung yang bisa memimpin Jawa Timur," jelas Mujari yang rumahnya ketempatan pertemuan Bambang dengan warga.
Ia bertemu kembali dengan teman-temannya, para tetangga serta famili keluarganya.
"Desa Kledung ini tempat asal ayah saya. Waktu masih anak-anak, saya sering main ke sini. Masih banyak famili keluarga saya yang tinggal di sini," kata Bambang
Bambang DH tidak bisa melupakan Mbah Sainem. Perempuan tua itu tercatat pernah momong dirinya ketika kecil. Badannya masih terlihat sehat.
Bambang DH bersyukur karena masih punya kesempatan bertemu dengan Sainem. "Hebat. Kondisinya masih sehat dan segar, sekalipun usianya sudah tidak muda. Beliau ini yang momong saya waktu kecil," kata Bambang DH.
Usai pertemuan di rumah Mujari, warga yang sebagai besar ibu-ibu itu pun berfoto bersama. Mereka mengangkat jempol, ikon pemenangan Bambang DH-Said Abdullah.
"Terima kasih Bu. Mohon doa restunya,” kata Bambang DH, Selasa (16/7/2013).
Dari Pacitan ke Surabaya
Bambang DH tercatat lahir dan tumbuh di Desa Tegalombo, Pacitan, 24 Juli 1961. Ia tinggal di desa itu, tempat kakek dari jalur ibunya.
Tidak jarang Bambang DH kecil diajak ayahnya ke Desa Kledung, yang jaraknya sekitar 4 kilometer dari Tegalombo, dengan menyusuri jalan naik-turun perbukitan.
Dari Tegalombo, Bambang DH diboyong ke Kota Surabaya oleh orangtuanya, dan kemudian tinggal di kawasan padat penduduk, kampong Simo.
"Desa Kledung ini tempat asal ayah saya. Waktu masih anak-anak, saya sering main ke sini. Masih banyak famili keluarga saya yang tinggal di sini,” kata Bambang DH.
(gik/gik)











































