Aksi massa tergabung dalam Aliansi Peduli Rakyat (Ampera) itu digelar depan Balai Kota Malang atau sekitar 700 meter dari kantor pos. Mahasiswa menilai APBN jebol karena Pertamina defisit hingga menaikkan harga BBM adalah sebuah kebohongan besar. Padahal dengan harga BBM lama pemerintah sudah mengalami surplus Rp 97 triliun.
"Kerugian negara tidak lebih karena adanya pemborosan anggaran dan korupsi oleh pemerintah sendiri," kata mahasiswa dalam orasinya.
Pendemo melengkapi aksi dengan sejumlah atribut dan poster. Mereka meminta turunkan harga BBM itu menyayangkan pemerintah justru tidak mengeluarkan kebijakaan sendiri dalam menentukan harga BBM.
Harga minyak dunia selalu menjadi alasan yang padahal pemerintah telah mendapat intervensi asing sudah menguasai minyak Indonesia. "SBY-Boediono jadi antek asing, rakyat dikorbankan," teriak mahasiswa.
Beberapa tuntutan diserukan pendemo yang diinginkan bisa disampaikan langsung kepada Wapres Boediono sedang memantau pelaksaan Balsem di Kantor Pos Malang, siang ini.
Ketatnya penjagaan membawa mahasiswa terpaksa menggelar aksi depan Balaikota Malang. Yakni, turunkan harga BBM, uji materi UU No 15 Tahun 2013 tentang APBN perubahan, nasionalisasi perusahaan migas, adanya pembatasan korporasi otomotif di Indonesia.
"Yang selanjutnya pemerintah harus membikin kilang minyak sendiri untuk kebutuhan dalan negeri dan hapus rancangan undang-undang Ormas," ucap Sofyan dari HMI UIN Maliki Malang di sela orasi.
Petugas keamanan menjaga ketat jalannya aksi yang meminta bertemu dengan Wapres. Hingga kini aksi demontransi masih berlangsung.
(fat/fat)










































