Padahal pengerjaan tol tersebut menyebabkan suara bising dan berdebu. Selain itu tembok rumah warga mulai retak-retak dan gampang banjir bila turun hujan. Warga sudah berusaha mengkomunikasikan dengan pihak proyek dan kelurahan, namun tidak dihiraukan.
"Sejak proyek ini dibangun sekitar 3 bulan lalu, tidak pernah berhenti hingga tengah malam. Padahal warga juga butuh istirahat dengan tenang, Warga juga tidak diajak berunding saat proyek ini mulai, tahu-tahu datang alat-alat berat," Korlap Aksi, Bambang kepada detikcom di lokasi, Jumat (21/6/2013).
Merasa tidak dihiraukan oleh kelurahan dan pihak proyek, kata Bambang, kemarahan warga memuncak sekitar pukul 19.00 WIB. Mereka menduduki lokasi proyek dan meneriakkan yel-yel hentikan pelaksanaan proyek.
"Hentikan..! hentikan..! Proyek ini ilegal..!," teriak warga secara bergantian.
Aksi warga ini berangsur mereda setelah pihak proyek, kelurahan dan warga berunding. Warga dijanjikan melakukan pertemuan dengan pihak terkait besok, Sabtu (22/6/2013). Namun bila proyek pengerjaan malam hari terus dilakukan dan tidak memberi kompensasi rumah yang retak-retak, warga mengancam akan turun dengan jumlah yang lebih besar.
Dari pantauan detikcom, aksi warga ini tidak ada pengamanan dari pihak kepolisian. Hingga pukul 22.30 WIB, warga masih bergerombol di sekitar lokasi proyek untuk berjaga-jaga.
(fat/fat)











































