"Tadi sempat menunggu sekitar 30 menit sebelum mendapatkan pelayanan," ujar Harsono, seorang keluarga pasien ditemui detikcom di ruang tunggu apotek.
Pria warga Losari Kecamatan Tulakan itu menuturkan, kedatangannya untuk mengantar adik iparnya yang menjalani operasi usus buntu. Saat tiba di RSUD, aliran listrik sudah mati. Akibatnya, pasien baru dapat ditangani setelah listrik kembali menyala.
"Kami hanya bisa manut (menurut) saja meskipun dalam hati kecewa," ungkapnya kesal.
Kondisi yang sama terjadi di loket pembayaran. Ruang tunggu yang berada satu lokasi dengan ruangan apotek juga penuh sesak oleh pasien maupun keluarga yang antre membayar.
Bahkan, lantaran tempat duduk yang ada tidak memadai, sebagian meluber ke teras. Selain hendak membayar biaya pengobatan, sebagian sedang mengantre obat.
"Mestinya kan ada genset. Jadi kalau mati listrik tidak mengganggu pelayanan," keluh Yulaikah, keluarga pasien di ruang tunggu apotek.
Dikonfirmasi, pihak RSUD melalui Kabag TU Budi Hartojo membenarkan padamnya aliran listrik di sebagian ruangan. Hal itu dikarenakan rusaknya MCB (miniature circuit breaker) pada salah satu jalur. Akibat rusaknya saklar otomatis tersebut, beberapa jenis pelayanan termasuk sistem billing pembayaran terpaksa direkap manual.
Budi menuturkan, saat ini pihaknya sudah memiliki 1 unit masin genset berkapasitas 8 kilowatt. Hanya saya, daya sebesar itu belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh ruangan. Harapannya, tahun depan pemkab dapat menganggarkan penambahan pembangkit listrik tenaga diesel dengan daya lebih besar.
"Genset (saat listrik padam) sudah digunakan tapi lebih diprioritaskan ke yang lain. Terutama ruang operasi dan ICU," jelas Budi Hartojo.
(fat/fat)











































