Penampilan perkusi apung digelar di Sungai Cemplong, Kejayan, Rabu (8/5/2013). Sebanyak 360 siswa dari semua kelas terlibat dalam gelaran ini. Mereka membagi diri dalam 32 grup perkusi dimana setiap grup terdiri dari 5-8 orang.
Seru! Para siswa beraksi dia atas panggung apung yang dibuat dari rakit bambu, drum bekas dan ban bekas. Mereka sangat fasih memukul peralatan perkusi dari kaleng bekas, pertalatan rumah tangga dan barang daur ulang lain.
Para siswa menghentak serempak. Panggung apung yang mereka naiki pun bergerak seiring irama perkusi. Ratusan warga yang melihat ikut bergoyang. Mereka tertawa dan ikut gembira.
Semakin semarak karena para peserta mengenakan kostum beraneka ragam. Seperti kostum tentara, wisuda, patrol, adat jawa, pandu sorak, anak band hingga kostum kerajaan.
"Sengaja kita gelar di sungai agar siswa semakin sadar akan kelestarian sungai, bahwa menjaga kebersihan sungai itu penting," kata Edy Santoso, panitia acara.
Menurut Edy, kesadaran siswa tidak bisa terwujud jika hanya diberi pelajaran di ruang kelas. "Ini gabungan dari mata pelajarana seni budaya dan muatan lokal mitigasi," imbuh Edy.
Andika Ika Sasmita, siswa kelas 11 IPA 2 mengatakan sangat antusias mengikuti acara tersebut. Selain bisa bergembira bersama, gelaran tersebut juga menjadi bahan penilaian dalam mata pelajaran seni budaya. Menurut dia, dengan akan digelarnya perkusi apung, para siswa bisa bersih-bersih sungai.
(fat/fat)











































