Riska Amalia satu dari tiga mahasiswa menciptakan baterai itu, menuturkan, Batuscen dibuat dengan memarut kaktus centong hingga menjadi partikel yang lebih kecil, kemudian dimasukkan ke wadah aki bekas motor.
Katoda batuscen dibuat dari tembaga sementara anodanya dari seng dan ditancapkan ke masing-masing sel aki yang telah diisi parutan kaktus centong. Dengan memakai rangkaian seri untuk setiap selnya, dua buah aki batuscen diparalelkan. Dari situ tegangan yang dihasilkan batuscen pada tiap-tiap sel mencapai 1.6 volt.
"Kami buat dua aki batuscen membutuhkan 12 kaktus centong yang bisa menghasilkan tegangan listrik hingga 19.2 volt. Ini setara dengan tegangan untuk menyalakan 25 lampu LED, 1 jam digital, 1 kalkulator digital dan 1 jam dinding," kata Riska Amalia dalam rilisnya, Kamis (2/5/2013).
Ia mengaku, pembuatan baterai dari kaktus centong terinspirasi dari banyaknya jenis tanaman itu tumbuh di kawasan tempat tinggalnya di Magetan, Jawa Timur.
Penggunaan energi ramah lingkungan menjadi dasar, dirinya bersama Susilowati mahasiswa Teknik Kimia dan Windy Antika menciptakan baterai tersebut.
"Karena terbuat dari tumbuhan, limbah batuscen tidak mencemari lingkungan," aku Riska.
Riska menambahkan, pemilihan kaktus centong didasarkan pada penelitiannya terdahulu yang membandingkan kaktus centong dengan kaktus hias dan kaktus bintang. Dibanding kedua varian kaktus tersebut, menurutnya kaktus centong menghasilkan voltase paling besar.
Selain itu, ia juga membandingkan hasil penelitiannya ini dengan penelitian sebelumnya, dimana baterai dibuat dari kulit pisang dan blimbing. Dibanding kedua bahan tersebut, diketahui bahwa kaktus centong memiliki kandungan kation penghasil listrik yang paling tinggi.
Karena berbagai kelebihannya, batuscen telah mengantarkan Riska dan timnya
meraih juara II dalam Innovative Material Engineering Competition (IMEC).
IMEC adalah kompetisi di bidang inovasi penemuan sumber energy baru yang
digelar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) digelar akhir bulan lalu.
Ia mengklaim batuscen itu bisa bertahan lama. Jika baterai 1.5 sampai 3 volt dijual di pasaran hanya bisa bertahan sampai dua hari untuk menyalakan lampu yang terus menerus, maka batuscen hasil karyanya bisa bertahan hingga tiga bulan.
Ketiga mahasiswa ini membagi tugas sesuai bidang yang ditekuni, Susilowati dari Teknik Kimia meneliti kandungan dan potensi aliran listrik dalam kaktus.
Sementara Windy dari statistika merekapitulasi data hasil penelitian seperti data tegangan, populasi, sampel dan variablenya. Riska sendiri, kebagian menentukan jenis rangkaian listrik dan membuat prototype batuscen.
Mereka berharap dapat memperbaiki kemasan batuscen yang semula dari aki motor
bekas menjadi kemasan yang lebih berestetika, lebih ramah lingkungan dan praktis.
"Bagaimana produk ini bisa dimanfaatkan masyarakat, menjadi harapan kami," harap Riska.
(fat/fat)










































