"Awalnya saya melihat ibu itu beserta suami dan dua anaknya berjalan di dekat lokasi pada Minggu (28/4/2013) malam sekitar pukul 21.00 WIB," kata Rusdi kepada detikcom, Senin (29/4/2013).
Satpam Perumahan Tamam Pinang itu mengatakan, sejam kemudian atau pukul 22.00 WIB, Rusdi melihat pasutri tersebut cekcok. Setelah cekcok selama 15 menit, sang suami meninggalkan istrinya yang akhirnya diketahui bernama Mundri.
Setelah itu Rusdi tak tahu apa-apa. Pukul 03.00 WIB, Rusdi kaget saat mengetahui ada orang memanjat tower sutet yang lokasinya berdekatan dengan perumahan atau pas di depan rumah makan Podo Joyo.
Rusdi baru sadar jika perempuan yang memanjat tower adalah perempuan yang dilihatnya malam tadi. Rusdi tahu karena Mundri mengenakan baju kuning lengan panjang, celana biru dan berjilbab. Pakaian yang sama yang dikenakan Mundri waktu itu.
"Saya sudah mencoba membujuknya, namun tak berhasil sehingga saya melapor polisi," tamabh Rusdi.
Polisi yang mendapat laporan segera membujuk Mundri namun tak berhasil. Setelah mencari dan bertemu keluarga Mundri di Klurak, Candi, ternyata diketahui jika Mundri adalah tuna rungu.
Diketahui pula jika suami dan dua anak perempuan 38 tahun itu juga tuna rungu. Mereka bertemu saat bersekolah di SLB dan akhirnya menikah. Untuk membujuk Mudnri, polisi akhirnya meminta bantuan Saiful, mantan guru SLB Mundri.
Untuk membujuk Mundri, Saiful menggunakan bahasa isyarat. Setelah cukup lama dibujuk, Mundri akhirnya turun sekitar pukul 07.00 WIB. Dengan menggunakan tangga panjang, petugas PLN membawa tubuh Mundri turun.
Karena kondisinya yang lemah, Mundri langsung dibawa ke RSUD Sidoarjo. Setelah ditanyakan ke keluarganya, diduga aksi nekat Mundri dilatar belakangi masalah ekonomi. Suami Mundri diketahui tidak bekerja, hanya Mundri saja yang bekerja di sebuah perusahaan farmasi di Sidoarjo.
(iwd/iwd)











































