"Kami ditolak oleh Kodim," tegas Anggota Sub Komisi Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Siane Indriani kepada wartawan sebelum meninggalkan Kantor Malang Post, Jumat (26/4/2013) siang.
Siane menjelaskan, tujuannya mendatangi Kodim adalah untuk menyelidiki adanya dugaan intimidasi oleh oknum TNI sebelum Ira mengalami aksi kekerasan.
"Kan disebut juga dalam kronologis, sempat ada intimidasi dari seorang oknum, makanya kita akan selidiki itu. Tapi kami tidak diterima," jelasnya.
Menurut dia, itu merupakan hak Kodim tidak menerima kehadiran timnya. Meskipun sebenarnya Kodim bisa saja memberikan jawaban sesuai keinginan mereka.
"Itu hak mereka untuk tidak menerima. Padahal sebenarnya tinggal jawab apa yang kami tanyakan," tuturnya.
Siane mengaku, indikasi mengarah adanya pihak-pihak tertentu terkait dalam kasus Ira ini sangat menguat. Terutama pasca pemberitaan yang ditulis oleh korban.
"Ancaman dan intimidasi terjadi pasca pemberitaan itu. Meski sangat sulit untuk mengungkapnya. Pastinya mereka akan membantahnya," aku Siane.
Komnas HAM melanjutkan penyelidikan ke Polres Malang Kota untuk menggali fakta-fakta atas kasus yang menimpa Ira tersebut. "Tapi kami diterima polisi hari ini," sebut Siane.
Kehadiran Komnas HAM sendiri lantaran merespon pengaduan Ira Ravika atas kasus kekerasan yang dialami. "Kami dapat pengaduan dari korban difasilitasi oleh AJI," tutur Siane.
Siane menambahkan, apabila Ira sudah tidak mempermasalahkan kasus ini, itu merupakan hak korban. Namun, pihaknya akan terus berupaya mengungkap teka-teki siapa pelaku kekerasan tersebut.
"Kalau korban sudah tak masalah itu hak dia, tapi kasus kekerasan ini sudah terjadi," imbuhnya pasca gagal bertemu dengan Ira Ravika.
Seperti diketahui, Ira Ravika, seorang reporter Malang Post menjadi korban tindak kekerasan. Perempuan berusia 33 tahun itu jatuh tersungkur dari motornya setelah ditendang orang tak dikenal di kawasan Oro-oro Dowo, Kota Malang, Rabu (9/1/2013) sore.
Akibatnya, Ira sapaan akrab kuli tinta itu harus dilarikan ke IRD Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) untuk mendapatkan perawatan medis, karena luka patah tulang pada tangan kanannya.
Kejadian yang menimpa jurnalis asal Banyuwangi ini diduga terkait soal pemberitaan.
(bdh/bdh)










































