Detikcom berkesempatan untuk berkunjung ke sekolah pilot negeri baru selain di Curug tersebut. Karena gedung masih dalam perencanaan pembangunan (tahun ini), kantor sekolah pilot tersebut masih 'seadanya'.
Sebuah kontainer disulap sedemikian rupa dan disekat menjadi tiga ruangan untuk menjadi kantornya. Ruangan pertama bagi Kepala Sekolah, ruangan kedua untuk administrasi dan ruangan terakhir untuk tim maintenance pesawat.
Persis beberapa meter dari halaman depan kantor itu berdiri hangar pesawat. Di sebelah timurnya berdiri juga gedung sederhana seukuran rumah tipe 36 yang digunakan sebagai tempat makan siang dan istirahat para civitas akademik.
"Kapten Budi (Kepala sekolah) masih flight, mungkin satu jam lagi landing. Silahkan duduk mas," kata Chief Maintenance Enginer ATKP Surabaya di Banyuwangi Sudjud Prayitno sembari tersenyum ramah saat menyambut kedatangan detikcom di ruangannya, Kamis (25/4/2013).
Rutinitas belajar ke 12 siswa penerbang angkatan pertama ini banyak dihabiskan di apron bandara. Mereka mulai berlatih terbang mulai pukul 08.00 WIB-16.00 WIB. Dalam rentang waktu itu ada 6 jam latihan terbang yang didampingi oleh Kapten Budi.
Saat ini tiap siswa dapat jatah latihan terbang dua hari sekali dengan sesi terbang 1 jam dengan pesawat latih jenis Socata Tobago 10 buatan Perancis. Itu akan menyesuaikan dengan jumlah armada pesawat latih yang ada.
"Sementara ini ada dua pesawat latih, yang satu masih dalam maintenance di hanggar," kata Kapten Budi ditemui di apron bandara usai mendampingi siswa berlatih.
Selain berlatih menerbangkan pesawat, sambungnya, taruna juga diajari tentang teknis pesawat. Semisal pemeliharaan pesawat yang perlu dan penting diketahui para calon pilot tersebut. Sebelum dan sesudah terbang, pesawat harus diperiksa sesuai standar operasional (SOP).
Pertengahan Juni 2013 nanti ada 3 pesawat latih tambahan yakni pesawat Cessna 172 SP buatan Amerika. Dengan begitu, total pesawat latih akan menjadi 5 armada yang dioperasikan sekolah pilot. Selain itu 5 instruktur baru sudah didatangkan ke Banyuwangi.
"Instruktur ini akan membantu saya memberikan materi," tambah pria berambut cepak ini.
Dijelaskannya juga, saat ini pihaknya membuka kesempatan bagi siapa saja untuk menjadi calon taruna sekolah pilot. Pendaftaran ditutup 30 Mei 2013 mendatang. Diutamakan yang berasal dari wilayah Banyuwangi. Namun tidak menutup kesempatan dari daerah lain.
"Kemungkinan untuk angkatan ke 2 ini juga 12 siswa yang diterima," ungkapnya.
Saat dari 12 taruna angkatan pertama yang sudah belajar, salah satu diantaranya berasal dari Banyuwangi. Dia adalah Muhammad Ananditya Patria Pratama (19), asal Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.
Saat ditemui, Adit, panggilan akrabnya, mengaku bangga dan senang diterima menjadi taruna sekolah pilot Banyuwangi. Saat acara launching first flight sepekan lalu, dia didapuk untuk menerbangkan pesawat latih dengan didampingi Kapten Budi.
"Saya bersyukur dan bangga bisa terbang di daerah saya sendiri. Ada perasaan sedikit takut, tapi dengan latihan dan pendampingan instruktur insya Allah semuanya bisa lancar," ujarnya bangga.
Dari pantauan detikcom, kedisplinan para taruna juga menjadi perhatian pihak sekolah pilot Banyuwangi. Para siswa sepertinya dididik semi militer. Dengan ciri khas sikap mawas dan sikap hormat ala militer.
Kekompakan juga terlihat dari tiap aktivitas mereka. Semisal saat menyambut pesawat yang usai digunakan berlatih, mereka akan terlebih dahulu berbaris. Selanjutnya berjalan setengah berlari secara serempak.
(iwd/iwd)











































