Agar tidak mogok di jalan, para sopir truk itu terlebih dulu mengisi solar di lapak pengecer. Tentu saja dengan harga mahal hingga Rp 5.500 per liternya.
"Tadi pagi saya keliling cari solar. Tak hanya satu SPBU, tapi saya berkeliling hingga ke lima SPBU. Tapi tetap saja tidak menemukan solar. Terpaksa harus beli ke Sumenep," terang Jumali, sopir truk milik warga Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Rabu (24/4/2013).
Jumali mengatakan, pagi tadi terdapat 3 SPBU yang memasang papan bertuliskan "MAAF KUOTA SOLAR BERSUBSIDI SELESAI DISALURKAN. SILAHKAN MENGGUNAKAN SOLAR NON SUBSIDI". Ketiga SPBU itu berlokasi di Jalan Raya Proppo, Jalan Pintu Gerbang dan Jalan Raya Larangan Badung.
"Siang sedikit, dua SPBU di Jalan Raya Sumenep dan Jalan Trunojoyo juga memasang papan pengumuman yang sama. Solar habis dan terpaksa pengguna kendaraan berbahan solar harus mencair ke kota lain, seperti ke Sumenep," imbuhnya.
Terpisah, Saiful seorang operator SPBU Jalan Pintu Gerbang mengatakan persediaan solar di tempat kerjanya telah habis sejak Selasa sore kemarin.
"Sejak kemarin sore solar sudah habis Mas. Hingga siang ini, belum ada kiriman dari pertaminan. Terpaksa, kami memasang pengumuman solar habis agar konsumen mengetahuinya," pungkasnya.
(bdh/bdh)











































