Dari pantauan detikcom, Senin (21/4/2013), antrean solar sedikitnya terlihat di tiga SPBU. Diantaranya di wilayah Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Kabat dan Kecamatan Kalipuro.
Antrean tidak hanya terjadi di area SPBU, namun meluber ke jalan raya. hingga membuat arus lalu lintas terganggu. Bahkan antrean di SPBU Kabat menutup akses masuk ke Politeknik Negeri Banyuwangi. Sejumlah satpam kampus dikerahkan untuk ikut mengatur arus lalu lintas setempat.
"Saya antre sejak subuh tadi, sebelumnya keliling ke semua SPBU sudah kosong," kata Suharmono, sopir bus jurusan Banyuwangi-Trenggalek, ditemui disela mengantre di SPBU Kabat.
Suharmono mengaku, tidak hanya di Banyuwangi saja solar langka. Namun di sepanjang rute angkutan yang dilaluinya juga mengalami hal serupa. Bilapun dapat membeli, dirinya hanya mendapatkan jatah 50 liter saja.
"50 liter cuma sampai Lumajang saja sudah habis mas, akhirnya waktu kerja cuma habis untuk antre solar," keluhnya.
Tidak hanya sopir bus seperti Suharmono yang antre solar. Namun para petani, nelayan juga 'berebut' untuk mendapatkan solar di SPBU dengan membawa jerigen. Untuk petani dan nelayan kecil hanya dijatah 20 liter saja.
"Hanya boleh beli 20 liter saja, tidak cukup," ujar Hartono, petani asal Kabat.
Ketua DPRD Banyuwangi, Hermanto menyesalkan terjadinya antrean solar yang terjadi di semua SPBU di Banyuwangi. Apalagi imbasnya dirasakan oleh kendaraan penumpang seperti bus.
Politisi asal PDI Perjuangan ini memprediksi jika kondisi serupa terjadi berlarut-larut maka akan melumpuhkan sendi perekonomian. Khususnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
"Semestinya tidak terjadi, jika dibiarkan akan berdampak luas," kata Hermanto dikonfirmasi detikcom di kantornya.
Dari informasi yang dihimpun, antrean solar hingga mengakibatkan kemacetan juga terjadi di SPBU Mojongapit Jombang, SPBU Singoasari Malang, SPBU Raya Taman Sepanjang Sidoarjo, SPBU Aloga Sidoarjo.
(bdh/bdh)











































