Membukukan Kisah Kuno Suku Using yang Terserak

Membukukan Kisah Kuno Suku Using yang Terserak

Irul Hamdani - detikNews
Kamis, 04 Apr 2013 14:49 WIB
Membukukan Kisah Kuno Suku Using yang Terserak
Banyuwangi - Dalam waktu dekat, buku "Kisah Barong Jakripah Dan Paman Iris" segera diluncurkan. Buku yang mengangkat legenda dari Desa Kemiren Kecamatan Glagah, Banyuwangi, itu ditulis dengan bahasa Using, bahasa suku asli Banyuwangi.

Buku setebal 70 halaman ini juga diterjemahkan dalam bahasa Jawa dan 4 bahasa asing sekaligus. Diantaranya, bahasa Belanda (Clemy Balvers), bahasa Prancis (Gaelle De Boishebert), bahasa Italia (Lara Braham) serta bahasa Inggris yang diterjemahkannya sendiri.

Adalah Aekanu Hariyono, penulis buku "Kisah Barong Jakripah Dan Paman Iris" yang dicetak full colour, ini. Pemerhati dan penggiat budaya Banyuwangi ini mencoba mengumpulkan dan mengungkap petuah-petuah kuno yang dari Suku Using, yang terkandung dalam legenda yang nyaris punah ini.

"Saya melibatkan Budayawan, Anthropolog, musicetnokolog, seniman dan cendikiawan dan beberapa pihak disiplin ilmu lainnya saat riset," jelas pria yang juga Dosen PTS di Banyuwangi, ini saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Kamis (4/4/2013).
 
Agar pesan tersampaikan, Aekanu menampilkan ilustrasi barong dan tokoh yang ada dalam kisah itu ditiap lembar buku. Uniknya, untuk mendapatkan ilustrasi penampakan Barong dan tokoh lainnya, dia bersama Aris Siswanto, pelukis muda (Ilustrator) Kemiren, melakukan ritual di makam leluhur Desa Kemiren.

"Saya dan ilustrator lakukan ritual dimakam untuk mendapatkan 'ijin'. Ini tidak bisa dihindari karena memang adat Kemiren seperti demikian," ungkapnya.

Buku ini sendiri ditulis sebagai upaya konservasi kisah-kisah kuno Suku Using yang sejauh ini disampaikan melalui budaya lisan. Selain kisah Barong Jakripah Dan Paman Iris, Aekanu juga menulis sejumlah legenda Suku Using lainnya, yang sudah siap dibukukan.

Dia berharap, bukunya tersebut semakin memperkaya referensi mengenai budaya di Banyuwangi. Yang pada nantinya membantu mengangkat Budaya Banyuwangi di Nasional maupun dunia International.

"Yang terpenting kisah-kisah kuno ini tidak punah," tandas pria berbadan subur ini.

(bdh/bdh)
Berita Terkait