"Motif pembunuhan itu karena dendam lama. Pelaku dan korban dulu sempat bekerja di Sumatera. Saat itu, antara korban dengan istri pelaku sempat ada hubungan perselingkuhan," kata Aiptu Bambang, Selasa (2/4/2013).
Kanitreskrim Polsek Jenggawah itu menerangkan, perselingkuhan itu terjadi September 2012 lalu. Peristiwa perselingkuhan itulah membuat Jasuki diliputi perasaan dendam. Namun dendam itu belum sempat terlampiaskan, karena dirinya harus pulang ke Jember.
Nah, beberapa waktu lalu Didik juga kembali ke kampung halamannya. Dendam yang dipendam lama muncul kembali. Hingga akhirnya Jasuki mengundang korban datang ke rumahnya. Di rumah Jasuki itulah, akhirnya Didik tewas akibat sabetan clurit Jasuki.
"Menurut keterangan tersangka, dia sebenarnya tidak berniat membunuh. Dia hanya ingin meminta penjelasan korban kenapa sampai berselingkuh. Namun saat itu malah terjadi percekcokan sehingga pelaku tak bisa menahan emosinya. Akhirnya, pelaku mengambil clurit dan langsung membacok korban," terang Bambang.
Usai membunuh Didik, Jasuki kemudian kabur ke rumah salah seorang kerabatnya di desa Sumberpakem, kecamatan Sumberjambe. Polisi yang mengetahui keberadaan pelaku, langsung mendatangi tempat persembunyian Jasuki.
"Saat kita tangkap, pelaku tidak melakukan perlawanan karena kita sudah berkomunikasi dengan kerabatnya. Saat ini pelaku sudah kita amankan di Mapolsek Jenggawah," kata Bambang.
Selain menahan Jasuki, polisi juga menyita sebilah clurit sebagai barang bukti.
Seperti diberitakan sebelumnya, Didik Subiantoro ditemukan tewas bersimbah darah, di ruang tamu rumah Jasuki, yang berjarak 50 meter dari rumahnya. Didik tewas akibat sabetan clurit di kepala dan lengan.
(fat/fat)










































