Kepada detiksurabaya.com, wahyu menceritakan kronologi penganiayaan yang menimpanya itu. Kejadian itu bermula saat Wahyu hendak pergi ke warung isrtinya, Hari Fitriani (32) di Jalan Hayam Wuruk Kota Mojokerto, Senin (25/3/2013) sekitar pukul 03.00 WIB dini hari.
Dengan mengendarai motor, Wahyu bergegas menuju warung istrinya itu. Namun, laju kendaraannya ini dipotong oleh seorang anggota polisi berseragam yang mengendarai motor Yamaha Vega R.
Tanpa basa-basi, Korps Bhayangkara ini melayangkan bogem mentah ke wajah Wahyu. Tak hanya itu, hampir sekujur tubuh Wahyu ini digebuki dan ditendangi polisi ini. Saat itu, Wahyu sempat bertanya apa penyebab dirinya dipukuli.
"Saya sempat tanya, kenapa saya dipukuli. Saya bukan maling," sesal Wahyu saat ditemui detiksurabaya.com di kediamannya, Selasa (26/3/2013).
Tanpa penjelasan, Wahyu terus dipukuli polisi ini hungga tersungkur. Karena tak kuat, Wahyu berlari ke tanggul Sungai Brantas untuk menyelamatkan diri. Meski demikian, Wahyu terus dipukuli dan diancam ditembak karena melawan petugas.
"Istri saya dilarang ikut campur saat saya dianiaya. Polisi itu menenteng pistol ditodongkan ke kepala saya. Saya heran salah apa waktu itu," imbuhnya.
Setelah dipukuli di atas tanggul Sungai Brantas, Wahyu diseret ke pos polisi di depan Alun-alun Mojokerto. Di pos itu, wahyu kembali dianiaya layaknya maling. Puas menganiaya, polisi ini meninggalkannya begitu saja.
Tak terima dengan penganiayaan itu, Wahyu dan istrinya mendatangi Mapolresta Mojokerto untuk melaporkan peristiwa naas itu. Usai melapor, Wahyu juga menjalani visum dan hasilnya punggung, pelipis mata kiri, hidung, kaki kiri dan pinggan mengalami luka.
"Sudah saya laporkan ke provost. Saya sendiri masih trauma untuk berdagang dan keluar malam," pungkasnya.
Hingga pukul 16.30 WIB, Kapolresta Mojokerto AKBP Iwan Kurniawan belum bisa dikonfirmasi. Terdengar nada sibuk saat dihubungi detiksurabaya.com.
(fat/fat)











































