Rasa penyelasan yang mendalam, seperti yang dialami Paiman salah satu kakek korban yang bernama Reza Ananda.
"Oalah, kenapa nasibmu seperti ini ngger (anak,red)," teriak Paiman di kamar jenazah RSUD Pacitan usai melihat jasad cucu kesayangannya.
Tentu saja kakek sepuh itu merasa sangat kehilangan. Apalagi, Reza Ananda (12) salah seorang korban tewas merupakan cucu kesayangannya. Tak ayal, saat korban pamit hendak mengikuti kemah, sang kakek sempat melarangnya.
"Wong hari Minggu kok sekolah," tuturnya sambil menangis histeris, Minggu (17/3/2013).
Paiman tak menyangka, kalimat itu merupakan nasehat terakhirnya untuk sang cucu. Ia baru sadar telah kehilangan cucu tercintanya setelah mendengar kabar dari mulut ke mulut.
Seolah tak percaya, Paiman lantas minta diantar ke lokasi kejadian. Hanya saja, saat itu jenazah korban sudah dibawa ke kamar jenazah RSUD, Jl DI Panjaitan. Dia pun lantas berpindah haluan ke fasilitas milik pemkab itu.
Tak sabar melihat kondisi cucunya, Paiman menerobos begitu saja penjagaan petugas. Langkahnya tertuju pada sesosok tubuh terbungkus kantong mayat berwarna oranye.
Sesaat setelah membukanya, Paiman sontak berteriak histeris. Tak berselang lama, tubuh rentanya terkulai dan terpaksa dibopong keluar ruangan oleh anggota keluarga lainnya.
"Astaghfirullah, astaghfirullah," gumam seorang wanita sambil memegangi tangan Paiman.
Seperti diberitakan sebelumnya, 6 orang pramuka tewas tenggelam di Sungai Purwoasri, Kebonagung, Pacitan, Minggu (17/3) sore. Dari jumlah itu, 5 diantaranya merupakan siswa SMP 1 Kebonagung, sedangkan seorang lainnya pembina pertama Sutrisno.
Ke 5 pramuka yang tewas yakni Reza Ananda, Rico Ardi Santoso, Safri Dwi Alfian, Wahyu Budi dan Jodi Erlangga. Dan satu orang pembina pramuka yang ikut tewas saat berusaha menolong kelima korban, Sutrisno.
(ze/ze)











































