Bagian kulit paha kanan pria 53 tahun itu melepuh dan mengelupas akibat tersiram air mendidih. Peristiwa memilukan itu terjadi justru saat Priyo hendak mengobati penyakit chikungunya yang dideritanya ke seorang tabib di Situbondo.
Air panas tumpah dan mengenai paha kanan Priyo saat dilakukan ritual pengobatan oleh sang tabib berinisial HA.
"Air yang mendidih di panci diletakkan di atas kepala. Waktu tumpah untung saya cepat bergerak sehingga tidak mengenai wajah, tapi mengenai paha. Saya langsung teriak kepanasan," kata Priyo Sutikno saat ditemui detikSurabaya.com di rumahnya, Sabtu (16/3/2013).
Keterangan yang dihimpun menyebutkan, sebelum insiden tersebut Priyo sudah semingguan menderita sakit kaki diduga chikungunya. Karena takut jarum suntik, Ketua HIPPA Desa Kedungdowo, itu pun enggan datang ke dokter.
Suatu saat korban mendapatkan petunjuk dari kerabatanya untuk mengobati penyakitnya lewat jalur alternatif dengan datang ke seorang tabib di Kecamatan Arjasa. Mendengar itu, dengan diantar istri dan kerabatnya bapak empat anak itu pun datang ke tabib dimaksud, beberapa hari lalu.
"Awalnya penyakit saya dikatakan penyakit dari luar sehingga perlu pengobatan khusus. Waktu itu saya dibawa masuk ke dalam rumahnya (si tabib, red) dekat dapur. Kejadiannya akhirnya ya di situ," sambung Priyo.
Di dekat dapur itulah, Priyo menjalani ritual pengobatan khusus. Dalam ritual itu sang tabib meletakkan panci berisikan air mendidih di atas kepala korban. Entah bagaimana saat itu korban tiba-tiba bergerak hingga panci berisi air mendidih itu langsung tumpah dan mengenai paha bagian kanan korban.
Meski mengalami luka bakar serius, Priyo enggan dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan dokter.
"Suami saya takut jarum suntik, tidak mau dibawa ke dokter. Termasuk waktu kakinya sakit, sampai 11 hari tetap tidak mau ke dokter. Jadi, begitu kena air panas itu suami saya langsung minta diantar pulang. Untungnya ada pasien lain yang bawa mobil," timpal Asmaiyah, istri korban.
Kepala Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa, Hafid mengatakan, sejauh ini warganya yang terkena musibah itu belum melanjutkan kasus yang menimpanya ke ranah hukum. Hingga kini korban masih konsentrasi pada upaya penyembuhan luka bakar di rumahnya. Meski begitu, sambung Hafid, korban meminta agar ada itikad baik dari si tabib untuk membantu membiayai pengobatan korban.
"Sejak kejadian itu si tabib memang sudah pernah datang ke rumahnya tapi hanya untuk meminta maaf. Padahal korban ini kan butuh biaya perawatan, apalagi sejak tertumpah air panas itu korban juga tidak bisa bekerja. Jadi diharapkan ada pengertian dari pihak sana," tandas Hafid.
(iwd/iwd)











































