Tergiur Bunga Tinggi, Warga Lamongan Tertipu Rp 6,9 Miliar

Tergiur Bunga Tinggi, Warga Lamongan Tertipu Rp 6,9 Miliar

Eko Sudjarwo - detikNews
Kamis, 14 Mar 2013 15:23 WIB
Lamongan - Gara-gara tergiur program menanam saham di BC Ekspress Lamongan, perwakilan nasabah melaporkan pimpinannya ke polisi. Tiga nasabah yang mengaku perwakilan ini tertipu sebesar Rp 6,9 miliar.

Sebab mereka diiming-imingi bunga atau profit 15 persen yang dijanjikan perusahaan yang berkantor di Ruko Demangan Regency Jalan Sunan Drajat Lamongan.

Seorang nasabah bernama Nurul Huda mengatakan, mereka saat ini kebingungan menarik uangnya dari BC Ekspress karena sejak 2 pekan ini kantor itu tutup dan Dirut PT BC Ekspress, Cahyo Budianto diciduk Polres Ponorogo karena terungkap kedoknya jika usaha yang dikembangkan itu bodong.

"Di Lamongan sendiri setidaknya ada 150 anggota termasuk saya dengan total uang yang dibawa berjumlah Rp 6,9 miliar," kata Nurul Huda kepada wartawan di mapolres, Kamis (14/3/2013).

Sebelum mendatangi Mapolres Lamongan, para nasabah BC Ekspress ini sudah mendatangi rumah kost sang direktur, namun sudah ditinggalkan sejak beberapa bulan terakhir.

Saat mengetahui direkturnya tertangkap di Ponorogo, tutur Huda, para nasabah langsung shock. Para nasabah sebelumnya sudah dibuat bingung saat menanyakan bunga yang dijanjikan sebesar 15 persen tidak pernah ada.

Padahal nasabah dijanjikan bahwa BC Ekspress akan mengembalikan semua investasi para nasabah tetapi setelah 6 bulan, ternyata janji itu juga tidak terbukti.

Huda menjelaskan, semula BC Ekspress itu bergerak di level multi marketing (MLM) di bidang produk kecantikan. Namun setelah sebulan berjalan, Cahyo Budianto mengembangkan usaha di bidang deposito ekspress, investasi keuangan untuk berbagai bidang pekerjaan. Termasuk properti, pertambangan di Nabire serta sektor lainnya.

Namun setelah berjalan 3 bulan hingga 6 bulan ini, tidak ada lagi nasabah yang menerima profite itu. Kalaupun ada, terang Huda, nasabah hanya diberi bentuk giro bilyet kosong. Lalu berlanjut pelaku sulit dihubungi.

"Kalaupun bisa dihubungi hanya janji–janji saja dan sering mengatakan kalau sedang berada di Malaysia, Sungapura dan beberapa negara lainnya untuk mengurus bisnis besarnya," ujarnya.

Sementara Kasat reskrim Polres Lamongan, AKP Hasran menyatakan, pihaknya masih menerima laporan dan penyelidikan. Laporan nasabah ini, kata Hasran, digunakan sebagai bahan awal penyelidikan.

(fat/fat)
Berita Terkait