Dari penuturan warga, robohnya bangunan ini akibat hujan deras dan angin kencang. Namun warga juga menilai konstruksi bangunan memang rapuh atau tidak sesuai spesifikasi.
"Tadi malam pukul 03.00 WIB kejadiaannya. Tapi siang harinya para guru katanya mendengar suara 'kretek-kretek' seperti mau roboh," ujar Maksum, warga Desa Tumpang yang juga wali murid di madrasah tersebut, Selasa (5/3/2013).
Pantauan detiksurabaya.com di lokasi, bangunan yang roboh terdiri dari 3 ruangan. 2 Ruangan yang rusak parah. Seluruh struktur atap di kedua ruang ini ambrol. Yang tersisa hanya kepingan atap dan reruntuhan material lain seperti beton dan kayu.
Hingga pukul 15.00 WIB, reruntuhan material bangunan masih berserakan. Sejumlah pekerja tampak membersihkannya dan memilah dan memilih genting dan kayu-kayu yang masih bisa dimanfaatkan.
"Bangunan ini selesai dibangun pada bulan 10 tahun 2012. Kita bersukur pas tidak pada siang hari (robohnya), sehingga tidak terjadi korban," timpal Sura'ih, perangkat desa setempat.
Bangunan yang roboh ini dibangun di tanah hibah seluas 8x23,5 meter persegi. Dana pembangunan menggunakan anggaran Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) sebesar 184 juta. Akibat gedung roboh, siswa diniyah harus belajar di musola dan rumah warga.
"Kalau pagi dipakai kelas TK dan SD, kalau sore untuk diniyah," pungkasnya.
(fat/fat)










































