Setiap turun hujan, limbah kotoran banyak meluber ke pemukiman warga. Tak hanya itu, sumber air di perumahan warga bahkan konon ada yang sempat berubah warna saat turun hujan.
Tidak terkendalinya limbah kotoran sapi perah tersebut, diduga akibat pembangunan kandang ternak yang didanai APBD Situbondo tahun 2012 senilai 116 jutaan tidak memenuhi standar. Diantaranya karena tidak dilengkapi dengan saptic tank untuk pembuangan kotoran.
Setiap turun hujan, air bercampur kotoran sapi mengalir ke arah selokan di tepi jalan desa. Ironisnya, dari lokasi kandang ke arah selokan tepi jalan juga tidak dilengkapi selokan. Sehingga air bercampur kotoran sapi itu kerap meluber ke pemukiman warga sekitar.
"Kami minta dinas terkait turun tangan, karena adanya kandang ternak sapi perah itu cukup meresahkan warga sini. Lingkungan kami jadi tidak sehat karena aroma kotoran sapi. Selain itu sumber air di sini juga mulai tercemari. Sudah ada 21 warga yang tanda tangan memprotes keberadaan kandang itu," kata Misnadi (52), warga setempat kepada detikSurabaya.com, Senin (11/2/2013).
Keterangan yang dihimpun, kandang ternak yang dibangun lewat dana APBD Situbondo tahun 2012 dengan leading sektor Dinas Peternakan Situbondo itu sudah hampir 2 bulanan ini ditempati 32 ekor sapi perah yang dikelola kelompok peternak Rojokoyo, Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih.
Sejak itu, warga yang tinggal di sekitar kandang ternak komunal itu mulai resah. Sebab aroma kotoran sapi yang menyengat cukup mengganggu warga hingga dikhawatirkan dapat menimbulkan serangan penyakit. Selain itu, setiap turun hujan limbah kotoran ternak itu juga kerap meluber ke pemukikam warga dan konon mulai mencemari sumber air di rumah-rumah penduduk.
"Di sini kedalaman sumber air hanya 1,5-2 meter. Jadi resapan kotoran itu jelas mencemari sumber air di sini. Jangankan izin lingkungan, pembangunan kandang ternak itu juga tidak pernah ada pemberitahuan sebelumnya ke warga, termasuk ke Ketua RT," timpal Mukaram, Ketua RT setempat.
Saat dikonfirmasi, pembina kelompok ternak Rojokoyo, Suroso menampik semua tudingan warga. Menurut dia, hampir semua warga di sekitar lingkungan kandang itu memelihara ternak sapi. Malahan, diantaranya lokasi kandang ternak warga itu berdimpitan dengan bagian dapurnya. Namun, sejauh ini tidak ada keluhan macam-macam. Karena itu, Suroso menuding adanya pihak ketiga di balik protes warga tersebut.
"Saya tahu siapa di balik semua itu. Padahal selama ini hampir setiap rumah di sini ada sapinya, tapi tidak ada masalah. Tentang pemberitahuan itu kami pengajuan proposalnya kan melewati kepala desa. Jadi secara otomatis pasti sudah mengetahui," tukas Suroso.
(fat/fat)











































