Ritual Adu Cambuk Warnai Selamatan Desa di Situbondo

Ritual Adu Cambuk Warnai Selamatan Desa di Situbondo

Ghazali Dasuqi - detikNews
Selasa, 05 Feb 2013 16:53 WIB
Ritual Adu Cambuk Warnai Selamatan Desa di Situbondo
Situbondo - Tarung ojung atau adu cambuk menggunakan rotan mewarnai acara selamatan sebuah desa di Situbondo, Selasa (5/2/2013). Satu per satu para petarung unjuk kebolehan memainkan senjata rotan untuk mencambuk badan lawan.
Setiap petarung diberi kesempatan tiga kali mencambuk badan lawan secara bergantian. Saat bersamaan petarung satunya juga harus pintar menangkis cambukan lawan juga dengan rotan. Siapa cambukannya paling banyak mengenai badan lawan, dialah pemenangnya.

Untuk masyarakat Desa Bugeman, Kecamatan Kendit, ojung menjadi salah satu ritual setiap melaksanakan selamatan desanya. Lokasi pelaksanaannya pun juga sudah ditentukan harus di Dusun Belengguen. Konon, ritual ojung itu menjadi 'kewajiban' selamatan desa atas petuah para pembabat desa setempat, pada abad ke 13 silam. Sehingga menjadi tradisi turun menurun yang hingga kini masih dipertahankan.

"Di daerah lain ojung biasanya menjadi ritual meminta hujan. Tapi di Desa Bugeman tidak sekedar itu, tapi sudah menjadi kewajiban ritual setiap selamatan desa. Kalau tidak dilaksanakan, desa ini diyakini akan rawan bencana," kata Kepala Desa Bugeman, Kecamatan Kendit, Udid Yuliasto.

Pantauan detikSurabaya.com, pagelaran ojung dalam rangka selamatan Desa Bugeman, Kecamatan Kendit, cukup menarik perhatian. Ribuan warga dari berbagai desa di Situbondo tumplek blek di lokasi acara. Mereka rela berdesakan untuk menyaksikan kebolehan setiap petarung yang berlaga di atas 'ring'.

Tidak hanya dari masyarakat Kecamatan Kendit saja, para petarung juga berdatangan dari berbagai daerah lainnya, seperti Kecamatan Panji, Panarukan, dan Kecamatan lainnya.

Layaknya pertarungan tinju, sebelum bertanding wasit selalu membacakan peraturan kepada setiap petarung. Hanya bedanya pertarungan ojung dilakukan tanpa ronde. Para petarung juga diwajibkan mengenakan sarung dan berpeci. Setiap petarung hanya diberi kesempatan tiga kali memukulkan cambuk rotan di tangannya ke badan lawan.

Setiap selesai mencambuk, wasit dan juri akan menandai bekas pukulan di badan lawan dengan coretan spidol. Tak jarang para petarung menari kegirangan saat cambukannya masuk ke badan lawan. Meski meninggalkan luka memar akibat pukulan cambuk, para petarung mengaku senang bisa tampil di even tersebut.

"Saya mempersiapkan diri sekitar sebulanan ini. Kalau kena ya pasti sakit, tapi saya senang karena bisa tampil di ring ini untuk memeriahkan acara selamatan desa. Walaupun hadiahnya tidak seberapa," tutur Purwanto, salah satu petarung ojung.

Wakil Bupati Situbondo, Rachmad, ikut hadir membuka dan menyaksikan pagelaran ritual ojung tersebut. Menurut Rahmat, ojung menjadi tradisi khas Situbondo yang harus terus dilestarikan. Tradisi ojung juga pernah membanggakan nama Kabupaten Situbondo saat tampil di even budaya nasional di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Karena itu, Rachmad sempat berdecak kecewa karena para pejabat Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbupora) Situbondo tidak ada satu pun yang hadir dalam acara tersebut.

"Mestinya mereka punya catatan tersendiri, karena acara ojung ini dilaksanakan setiap tahun. Tradisi ojung ini harus lebih mendapatkan perhatian agar bisa terus dilestarikan," tegas Wakil Bupati Rachmad.

(fat/fat)
Berita Terkait