"Ritual itu bagian dari upaya warga mendukung pencarian. Tentu dengan harapan korban hilang segera ditemukan. Namanya juga kan permohonan," kata Kepala Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Irfan Riskafanda kepada detiksurabaya.com, Senin (21/1/2013).
Aneka ritual itu dilakukan sebagian nelayan pesisir Panarukan, sejak 9 nelayan dinyatakan hilang akibat karamnya 2 perahu motor di Selat Madura. Khususnya keluarga nelayan hilang bahkan ada yang sampai melepas sesajian ritual di tengah laut, di sekotar lokasi tenggelamnya 2 perahu motor bernama Kapodang dan Juanda.
"Ritual ini memohon kepada Allah agar 9 nelayan itu bisa cepat ditemukan. Setidaknya agar 'penjaga laut' di sini bisa membantu upaya pencarian yang dilakukan tim SAR," tandas Darin, seorang nelayan setempat.
Sebelumnya, cuaca buruk menyebabkan 2 perahu motor milik nelayan pesisir Panarukan, Kabupaten Situbondo rusak dan karam. Perahu motor jenis selerek bernama Kapodang dan Juanda itu tenggelam setelah terkena pusaran puting beliung di tengah Perairan Selat Madura.
Saat karam di tengah lautan, 2 perahu motor itu membawa 27 nelayan asal pesisir Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan. Sebanyak 11 nelayan menumpang perahu motor Kapodang; dan 16 lainnya menumpang perahu motor Juanda.
Dari 27 nelayan itu, hingga kini masih 9 nelayan yang masih dinyatakan hilang. Diantaranya dipastikan tewas akibat ikut tenggelam bersama perahu motornya yang mendadak karam. Sedangkan 18 nelayan berhasil diselamatkan oleh sejumlah perahu motor nelayan lain yang kebetulan mencari ikan tak jauh dari lokasi.
(bdh/bdh)










































