Para nelayan memarkir perahunya di tepi pantai. Mereka sengaja tidak melaut karena masih didera trauma hilangnya 9 nelayan akibat tenggelamnya 2 perahu motor, Kapodang dan Juanda.
Apalagi di saat bersamaan cuaca di laut masih cenderung tidak bersahabat. Angin kencang disertai ombak besar cukup sering menyapa perairan laut setempat. Hal itu membuat nelayan miris untuk bertolak ke tengah laut karena khawatir musibah karamnya 2 perahu motor di perairan Selat Madura itu terulang menimpa nelayan lain.
"Hari ini tidak ada nelayan yang melaut. Nelayan masih trauma kejadian karamnya 2 perahu. Selain itu, cuaca juga tidak mendukung. Barusan ini angin kencang dan ombak besar menerpa perairan Panarukan lagi," ujar Supriyono, nelayan setempat, Minggu (20/1/2013).
Pemilik perahu motor Misna Jaya itu menuturkan, tidak melautnya nelayan tidak berdampak pada harga ikan. Karena selama ini ketentuan harga ikan laut cenderung menjadi permainan pedagang hingga sulit untuk diprediksi. Dampak paling nyata justru dirasakan oleh kalangan nelayan sendiri karena penghasilannya pasti berkurang akibat tidak melaut. Karena itu Supriyono meminta agar pemerintah lebih peduli dengan keadaan nelayan.
"Seperti musibah perahu tenggelam, apa ada bantuan dari pemerintah, atau jasa raharja seperti kecelakaan di darat. Padahal akibat musibah itu nelayan yang selamat pasti shock hingga tidak mungkin bisa langsung melaut. Ini jelas berpengaruh pada kondisi ekonomi keluarganya," tandas Supriyono.
Kepala Pelaksana BPBD Situbondo Zainul Arifin mengimbau agar selama cuaca kurang bersahabat nelayan pesisir Situbondo hendaknya lebih berhati-hati. Sebab, cuaca di tengah laut masih sering mengancam keselamatan nelayan. Utamanya angin kencang disertai ombak besar.
"Jangan memaksakan diri melaut kalau cuaca sedang buruk. Karena itu dapat mengancam keselamatan sendiri," saran Zainul Arifin.
Sebelumnya, cuaca buruk menyebabkan 2 perahu motor milik nelayan pesisir Panarukan, Kabupaten Situbondo rusak dan karam. Perahu motor jenis selerek bernama Kapodang dan Juanda itu tenggelam setelah terkena pusaran puting beliung di tengah Perairan Selat Madura.
Saat karam di tengah lautan, 2 perahu motor itu membawa 27 nelayan asal pesisir Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan. Sebanyak 11 nelayan menumpang perahu motor Kapodang; dan 16 lainnya menumpang perahu motor Juanda.
Dari 27 nelayan itu, hingga kini masih 9 nelayan yang masih dinyatakan hilang. Diantaranya dipastikan tewas akibat ikut tenggelam bersama perahu motornya yang mendadak karam. Sedangkan 18 nelayan berhasil diselamatkan oleh sejumlah perahu motor nelayan lain yang kebetulan mencari ikan tak jauh dari lokasi.
(iwd/iwd)










































