Jalur alternatif di Taman Hutan Raya (Tahura) R Soeryo yang membelah Gunung Welirang ini, selain sering terjadi tindak kejahatan, juga sangat rawan terjadi longsor. Sebab, kemiringan tebing yang hampir 90 derajat, sangat mudah tergerus air hujan.
Pada beberapa titik di jalur sepanjang 25 Km ini, dipasang rambu-rambu rawan longsor. Namun, papan peringatan bencana longsor ini, tak sebanding dengan jumlah titik yang cukup banyak.
Banyaknya tikungan tajam menanjak maupun menurun, juga menyebabkan jalur ini banyak terjadi kecelakaan karena jalan sangat licin. Kendati demikian, jarang sekali terpasang rambu-rambu lalu lintas.
Luluk Suhariyanto, Kepala Tahura R Soeryo Sesi Pacet mengatakan, pihaknya telah memasang tanda peringatan bahaya longsor. Saat hujan deras, pengendara dihimbau tak melintasi jalan ini. Sebab, kemungkinan terjadi longsor sangat besar.
"Kita imbau pengendara agar tak melintasi jalur ini saat hujan deras, apalagi saat peringatan tahun baru nanti. Kemungkinan terjadi longsor sangat besar," katanya kepada detiksurabaya.com saat dikonfirmasi, Rabu (26/12/2012).
Menurutnya, hujan hari ini saja pepohonan di kawasan tersebut banyak yang tumbang. Hal ini sangat membahayakan jika memakan korban. "Jika hujan lebat, mendingan mengurungkan niatnya melintas di jalur ini," pungkasnya.
Perlu diketahui, kawasan hutan di Pacet pernah terjadi banjir bandang dan tanah longsor pada 11 Desember 2002 silam. Saat itu, bencana ini merenggut 32 korban jiwa. Kawasan hutan yang gundul akibat pembalakan liar menjadi penyebab utama.
(fat/fat)











































