Adalah Hanyndio Permana tim sukses salah satu calon ketua badan eksekutif mahasiswa ini harus dilarikan ke rumah sakit setelah ambruk saat terlibat adu fisik dengan satpam di Gedung Widyaloka tempat Pemira digelar.
Menurut keterangan yang dihimpun menyebutkan, bentrok berawal dari aksi protes pendukung salah satu calon adanya penggelembungan suara untuk menyukseskan calon lain.
Tudingan itu dengan ditemukannya salah satu kotak suara tak tersegel lengkap. Temuan itu memicu kelompok korban melayangkan protes kepada panitia dengan meluruk gedung Widyaloka tempat perhitungan suara akan dilakukan.
Namun niat itu mendapat perlawanan dari puluhan satpam sejak awal mengamankan proses perhitungan suara. Adu fisik tak terhindarkan hingga jatuh korban di pihak mahasiswa.
"Kami dihadang satpam dan dipukuli," terang Hanyndio kepada wartawan disela mendapat perawatan medis di RSI Unisma, Kota Malang.
Korban menyesalkan tindakan satpam sengaja menghadang kelompoknya untuk melayangkan protes penyelenggaraan Pemira tak berjalan jujur dan adil.
"Kami mau protes malah dipukuli," sesalnya.
Hanyndio mengaku, menerima beberapa pukulan dari satpam hingga tersungkur ke tanah, tak hanya itu bagian perutnya mengalami sakit setelah diinjak-injak satpam.
"Saya ditendang dan diinjak," akunya.
Sementara Guntur Kepala Satpam Unibraw membantah adanya pemukulan seperti dituduhkan mahasiswa. Meski demikian, dirinya tak memungkiri sempat terjadi adu fisik saat mahasiswa memaksa masuk.
"Tidak ada pemukulan, kalau senggol-senggolan memang ada," terangnya terpisah.
Guntur menambahkan, pihaknya memang diperintahkan mengamankan jalanannya Pemira. Dan semua tindakan sudah sesuai dengan mekanisme tetap pengamanan.
"Kami diperintah mengamankan kegiatan ini," imbuh dia.
(gik/gik)











































