Dugaan virus flu burung ini setelah keluar hasil pemeriksaan sampel dari Balai Besar Veteriner Jogjakarta, beberapa waktu lalu. Sebelum mati, ribuan bebek ini mengalami gejala yang sama, seperti penyakit tetelo.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Kabupaten Blitar Yuda Satya W, yang dikonfirmasi detiksurabaya.com membenarkan kasus ini.
"Jadi gini, mulai November lalu, banyak bebek yang mati, kemudian dilakukan uji lab di Balai Besar Veteriner Jogjakarta, dan hasilnya diduga kuat ini flu burung," jelas Yuda di ruang kerjanya, Kamis (20/12/2012).
Yuda menambahkan, atas banyaknya kematian bebek ini, petugas Dinas Peternakan Kabupaten Blitar, langsung melakukan penyemprotan cairan disinfektan ke kandang bebek di wilayah Kecamatan Ponggok, Sanankulon dan Nglegok. Pihaknya, juga mengumpulkan para peternak bebek di Kabupaten Blitar, untuk sosialisasi cara pencegahan virus berbahaya ini.
Kasus kematian ribuan bebek ini, awalnya sempat membingungkan karena gejala yang ditimbulkan seperti penyakit ND atau tetelo. Padahal, selama ini bebek dikenal sebagai unggas yang tahan terhadap penyakit dan perubahan cuaca dibandingkan dengan uanggas lain, seperti ayam. Namun setelah keluar hasil uji lab, barulah diketahui bahwa ribuan bebek ini mati akibat dugaan flu burung.
Sementara, para peternak itik di wilayah Sanankulon, memilih membakar bebek yang mati mendadak. Seperti yang dilakukan Samsul Hilal (40), seorang peternak yang memiliki sekitar 2000 an bebek petelur. Setiap hari, bebek miliknya mati mendadak, dan langsung dimusnahkan dengan cara dibakar.
"Ya dibakar, sesuai dengan petunjuk petugas dinas peternakan, agar virusnya tidak menular ke bebebk lainnya,"jelas Samsul yang ditemui detiksurabaya.com, di lokasi kandangnya.
Data Dinas Peternakan menyebutkan Kabupaten Blitar sendiri, populasi bebek cukup besar, mencapai sekitar 600 ribu ekor, tersebar di sejumlah kecamatan. Populasi tertinggi ada di tiga Kecamatan, yaitu Ponggok, Nglegok dan Sanankulon.
(/)










































