Dari informasi yang dihimpun, penurunan tanah terjadi pada Kamis (13/12/2012) sore dan langsung dilaporkan. BPLS yang mendapat laporan langsung melakukan pemantauan.
Untuk menghindari terjadinya insiden, sementara BPLS menyediakan dua pompa air untuk mengurangi volume air. BPLS juga melihat kondisi tanah dengan alat GPR (Geo Prenetting Radar) yang bisa mengetahui kedalaman tanah hingga 30-40 meter.
"BPLS untuk sementara hanya bisa mengurangi air dan tak bisa memperkuat tanggul karena dilarang oleh warga," kata Humas BPLS Hengki Listria Adi, Jumat (14/12/2012).
Sementara, Kapolres Sidoarjo AKBP Marjuki juga menseriusi tanggul kritis tersebut. Marjuki mengatakan, jajaran Polres Sidoarjo setiap hari akan memantau kondisi tanggul. Marjuki akan mensosialisasikan kepada warga kemungkinan yang terburuk.
"AKan kami sosialisasikan kepada warga bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan dan apa yang harus dilakukan bil aitu terjadi," ujar marjuki.
Sebagai catatan, tanggul tersebut pernah mengalami hal yang sama dan jebol pada Desember 2010 lalu. Saat jebol aliran lumpurnya merendm Desa Glagah Arum, Porong dan Desa Gempol Sari, Tanggulangin.
(iwd/bdh)










































