Pengumpulan kasek di kantor Dispendik Situbondo itu dalam rangka melakukan klarifikasi terkait adanya informasi arisan seks pelajar tersebut.
"Kami mengecek informasi itu. Hasilnya, semua Kasek mengaku tidak menaruh curiga
kepada siswanya ada yang terlibat dalam arisan itu. Karena itu, kami yakin informasi itu tidak benar dan harus diluruskan," kata Fathorrahman, Jumat (7/12/2012).
Kepala Dispendik Situbondo itu menegaskan, informasi yang berkembang juga tidak
jelas karena yang disebut-sebut pelajar hanya karena menggunakan pakaian olah raga
sekolah saat masuk ke eks lokalisasi pelacuran. Sehingga dianggapnya cukup
meragukan.
"Tetapi kami meminta agar para Kasek lebih waspada dan mengamati gerak-gerik anak
didiknya agar tidak terjebak dalam segala bentuk kenakalan," tegas Fathorrahman.
Sementara Sekretaris Dispendik Situbondo, Ateng Zaelani menambahkan, para kasek
juga diminta untuk ikut melakukan investigasi kebenaran kabar yang dinilai dapat
mencoreng citra dunia pendidikan di Situbondo itu.
"Kami meminta para Kasek untuk ikut menelusuri kebenaran informasi itu dengan
caranya sendiri. Karena kabar tentang arisan itu masih sangat tidak jelas dan
sudah meresahkan," tandas Ateng Zaelani.
Diberitakan sebelumnya, sekelompok pelajar setingkat SMA dikabarkan menggelar
arisan tak lazim. Disebut demikian, karena arisan diadakan untuk keperluan pesta
seks dengan cara membooking PSK (pekerja seks komersial). Pemenang arisan mendapat kesempatan menikmati uang hasil arisan untuk berkencan dengan PSK yang diinginkan.
Arisan seks siswa itu terungkap berdasarkan hasil testimoni atau pengakuan seorang
PSK berinisial YL kepada Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Situbondo. Testimoni
itu didapatkan KPA saat melakukan rapid test atau tes cepat HIV/AIDS kepada para
wanita penghibur di sejumlah eks lokalisasi di Situbondo.
(fat/fat)











































