Mengenang Jenderal Besar Sudirman

Mengenang Jenderal Besar Sudirman

- detikNews
Sabtu, 10 Nov 2012 13:15 WIB
Mengenang Jenderal Besar Sudirman
Pacitan - Suara bom menyeruak keheningan suasana desa. Kedamaian kehidupan yang mewarnai aktivitas sehari-hari warganya seketika berubah malapetaka. Laki-laki, perempuan, tua dan muda semua lari tunggang langgang. Sebagian tampak membawa hak milik yang masih tersisa. Ada pula wanita yang menggendong bayi-bayinya. Mereka mengungsi lantaran hidupnya terancam akibat serangan pasukan Belanda.

Sejurus kemudian, seorang sosok berpakaian adat Jawa lengkap dengan keris terselip di dada hadir diantara kerumunan warga. Pria berperawakan sedang yang juga selalu memegang tongkat itu lantas memimpin Tentara Republik bersama rakyat menangkis serangan tentara kolonial. Berkat kegigihannya, Belanda pun berhasil dipukul mundur. Pria perkasa itu adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Itu hanyalah sedikit cuplikan Drama Treatrikal yang disajikan usai Upacara Hari Pahlawan di pelataran Monumen Jenderal Sudirman, Desa Pakisbaru, Nawangan, Pacitan, Sabtu (10/11/2012). Drama berdurasi 15 menit yanag dimainkan ratusan siswa dari Kecamatan Bandar, menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia dibawah pimpinan Panglima Besar Jenderal Sudirman mempertahankan kemerdekaan diantara cengkeraman pasukan Belanda. peristiwa itu sendiri terjadi pada tahun 1949.

Pelaksanaan peringatan hari Pahlawan di Pacitan kali ini memang tergolong lain dari biasanya. Lokasi upacara dipilih pelataran Monumen Panglima Besar jenderal Sudirman. Hamparan tanah lapang dengan latar belakang patung perunggu Jenderal Sudirman mendadak dipadati ribuan warga. Selain dari unsur pelajar, PNS, TNI/Polri maupun organisasi kepemudaan, sejumlah warga dengan pakaian ala kadarnya juga berada dalam barisan peserta. Dingin udara di ketinggian 1200 dpl (diatas permukaan laut) tak menyurutkan semangat menghargai para pahlawan.

Pemilihan lokasi upacara di puncak Bukit Gandrung ini, memang baru pertama kalinya. Namun kemeriahan tampak begitu kental mewarnai keseluruhan prosesi. Tempat yang berjarak sekitar 40 kilometer arah utara ibu kota Kabupaten Pacitan ini memang menyimpan banyak catatan sejarah. Jenderal Sudirman pun pernah bermarkas di Desa Pakisbaru selama 3 bulan. Masa paling lama sang jenderal pernah berdiam di suatu tempat dari sekitar 7 bulan masa gerilya.

"Kegiatan semacam ini sangat penting untuk menanamkan semangat kejuangan bagi generasi muda kita. Dengan datang ke tempat seperti ini, apalagi melaksanakan upacara, tentunya akan semakin menguatkan jiwa nasionalisme," tutur Bupati Indartato kepada detiksurabaya.com usai bertindak sebagai Inspektur upacara.

Mengingat tingginya nilai sejarah yang dimiliki, lanjut bupati, seterusnya peringatan Hari Pahlawan tiap tahun akan diselenggarakan di tempat ini. Demikian pula dengan even gerak Jalan Napak Tilas Rute Gerilya Jenderal Sudirman akan dijadikan agenda tahunan yang mengawali peringatan. Nantinya, semua acara akan digelar dengan skala lebih besar.

Sehari menjelang peringatan Hari Pahlawan, iring-iringan napak tilas diberangkatkan dari perbatasan Kabupaten Pacitan dengan Trenggalek. Tepatnya di Desa Klepu, Kecamatan Sudimoro. Konvoi selanjutnya berjalan secara estafet menempuh jarak 75 kilometer hingga menembus finish di lokasi Monumen Jenderal Sudirman, Desa Pakisbaru. Serah terima tandu secara simbolis sekaligus menjadi awal prosesi upacara Hari Pahlawan.

"Tentu kami menyambut baik dilaksanakannya kegiatan semacam ini sebagai upaya menguatkan kembali semangat juang bagi generasi muda kita. Dan tentunya kami siap mendukung sepenuhnya," kata Letkol (Kav) Susanto dwi Asmara, Komandan Kodim 0801 Pacitan kepada wartawan di lokasi.

(bdh/bdh)
Berita Terkait