Setelah menempuh jarak 75 kilometer melintasi medan pegunungan terjal, peserta dijadwalkan tiba di finish Desa Pakisbaru, Nawangan pada Sabtu (10/11/2012) siang. Di garish finish, kegiatan dirangkaikan dengan upacara bendera Hari Pahlawan.
"Kegiatan semacam ini penting untuk memupuk semangat nasionalisme dan kepahlawanan," ujar Indartato kepada detiksurabaya.com usai pemberangkatan, Jumat (9/11/2012).
Pemberangkatan napak tilas dilakukan serentak di 6 wilayah kecamatan yang dilalui rute gerilya yakni Sudimoro, Ngadirojo, Tulakan, Tegalombo, Bandar, dan Nawangan. Sementara gerak jalan dilakukan secara estafet dengan masing-masing etape sejauh 2 kilometer.
"Ini semua merupakan inisiatif masyarakat dengan biaya seluruhnya juga dari mereka sendiri," kata Moh. Sigit Widiyanto, salah satu panitia.
Meski tidak diperlombakan dan tanpa hadiah, namun para peserta cukup antusias mengikuti napak tilas. Bukan hanya siswa SMP dan SMA, masyarakat umum pun cukup banyak yang ambil bagian. Selain itu, tampak juga anggota sejumlah perguruan bela diri berada diantara iring-iringan peserta.
Untuk diketahui, Pacitan memiliki sejumlah situs sejarah perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman selama memimpin gerilya melawan penjajah. Di daerah ini pula Sudirman pernah tinggal di rumah penduduk yang digunakan sebagai markas selama 3 bulan.
Bangunan kuno yang terletak di Dusun Sobo, Desa Pakisbaru, Nawangan saat ini menjadi salah satu obyek wisata sejarah yang banyak dikunjungi. Sementara di puncak Bukit Gandrung tak jauh dari rumah bekas markas gerilya berdiri kokoh patung perunggu Jenderal Sudirman.
"Tentu tidak berlebihan jika Pacitan mendapat gelar Kota Gerilya. Saya setuju,'' tandas Indartato.
(iwd/iwd)










































