Keharmonisan 4 Suku dan Adat Sundrang di Pulau Sepanjang

Keharmonisan 4 Suku dan Adat Sundrang di Pulau Sepanjang

Norma Anggara - detikNews
Minggu, 04 Nov 2012 13:07 WIB
Keharmonisan 4 Suku dan Adat Sundrang di Pulau Sepanjang
Sumenep - eskipun harus hidup berdempetan, masyarakat Desa Sepanjang yang memiliki banyak latar belakang kesukuan tak pernah ambil pusing. Ribuan jiwa penduduk yang berasal dari Suku Madura, Bajo, Mandar dan Bugis hidup bersama bahkan melakukan pernikahan silang antar suku.

Data pada awal tahun 2012, Kecamatan Sepanjang di Pulau Sepanjang dihuni 1.756 KK. Jika ditotal, terdapat 7.086 jiwa yang tinggal bersama di sebuah pulau seluas 73 km persegi.

Suku Madura masih mendominasi 60 persen jumlah penduduk di Kecamatan Sepanjang. Kemudian sisanya adalah Suku Bajo, Suku Mandar dan Suku Bugis dengan perbandingan hampir sama.

"Penduduk masih didominasi suku atau keturunan Madura," kata Kepala Desa Sepanjang, Hamzuri saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Minggu (4/11/2012).

Bak melaksanakan ideologi Pancasila yakni Bhineka Tunggal Ika, ribuan penduduk Desa Sepanjang saling berbaur. Hal ini ditandai dengan adanya adat, budaya dan kebiasaan masing-masing suku yang berhasil dilestarikan.

Sebut saja rumah panggung khas Bajo. Sebagian besar warga Desa Sepanjang pun lebih memilih membangun rumah panggung berbahan sesek (bambu) dan kayu. Sebab di bawah rumah (kolong) tak pernah sepi cangkrukan warga saat siang dan sore hari. Hal tersebut berlaku bagi masing-masing warga keturunan Madura, Mandar, Bajo dan Bugis.

Selain itu, adat Bugis dan Bajo lainnya yang kini lestari di Kecamatan Sepanjang yakni adat Sundrang. Ibarat barang, adat ini mengatur sebuah ritual pernikahan lebih dinamis dengan adanya tahap tawar menawar antar calon mempelai pria dan calon mempelai perempuan.

"Biasanya, harga tawar calon mempelai perempuan dimulai dari harga Rp 10 juta ke atas. Tergantung penghasilan ayah si perempuan," cerita Matasan (50).

Pria kelahiran Pulau Sapeken keturunan Suku Madura ini bertutur, adat Sundrang telah melekat pada seluruh warga Sepanjang. Baik warga keturunan Madura, Bugis, Mandar dan Bajo sepakat melestarikannya.

"Kalau sekarang, penduduk Sepanjang baik itu keturunan Madura, Bugis, Mandar ataupun Bajo sama-sama nurut adat Sundrang," lanjut dia.

Warga juga sering mengadakan kegiatan memasak bersama-sama bila tepat ada momen perayaan desa. Mereka juga tidak pernah absen menggelar Sedekah Bumi sebagai simbol ucapan syukur kepada Tuhan yang Esa.

"Warga kami nggak pernah absen Sedekah Bumi, setahun sekali selalu dilakukan. Ada masak bersama-sama juga di dapur besar," kata Hamzuri menceritakan warganya.

Warga Desa Sepanjang memang dilingkupi segala keterbatasan fasilitas. Jalan desa (dari ujung ke ujung pulau) yang berjarak 19 km ini mendapat penerangan dari tenaga diesel. Itupun, hanya 9 lampu yang standby di 6 dusun. Yakni 2 lampu di Dusun Tembing, 2 lampu di Dusun Patemon, 1 lampu di Dusun Cemara, 1 lampu untuk Dusun Grengseng, 1 lampu untuk Dusun Pelat, dan 2 lampu untuk Dusun Pajan Barat.

(nrm/bdh)
Berita Terkait