Ceprotan merupakan tradisi Bersih Desa yang wajib digelar tiap Hari Senin Kliwon, Bulan Longkang atau Selo kalender Jawa. Tujuannya, untuk menyingkirkan marabahaya dari segenap penjuru desa. Tak sekali pun warga berani melewatkan.
"Kalau tidak dilakukan sugesti dari masyarakat sini, banyak orang sakit, menanam tidak jadi. Sehingga sampai kapan pun tetap diadakan tradisi adat Ceprotan," tutur Iman Tukidjo di sela persiapan upacara, Rabu (10/10/2012).
Seperti halnya beberapa tradisi lain di Tanah Jawa, kelahiran upacara adat Ceprotan juga menampilkan tokoh Panji. Latar belakang kisah ini adalah runtuhnya Kerajaan Kediri yang terbagi menjadi dua kerajaan kecil. Yakni Jenggolo dan Doho.
Konon, romantika sepasang anak manusia dari lingkungan kerajaan turut menjadi korban perpecahan. Jalinan asmara antara Raden Panji Wanengpati dan Dewi Sekartaji tercerai berai. Keduanya terpaksa lari dari istana untuk menyelamatkan diri.
Selama puluhan tahun, terus saling mencari satu sama lain. Akhirnya, mereka pun bertemu di sebuah tempat yang menjadi cikal bakal bedirinya Desa Sekar.
"Dewi Sekartaji menyamar menjadi Brambang Bawang. Sedangkan Raden Panji Wanengpati menjadi Kyai Godheg. Pada saat Raden Panji babat hutan disini ketemu dengan Dewi Sekartaji. Kata Sekar sendiri diambil dari nama Dewi Sekartaji," terang pria dengan rambut panjang tersebut.
Kepulan asap dupa mulai berpadu dengan temaram senja yang beranjak petang. Semerbak bau kemenyan menyeruak semakin menambah suasana magis. Di panggung kecil berukuran 2x2 meter berpagar janur dan daun beringin, juru kunci menghadap tungku tempat dupa. Mulutnya komat-kamit membaca mantera. Ini adalah ritual awal dimulainya Ceprotan.
Beberapa saat kemudian, sekelompok orang dengan pakaian khas Jawa membawa tandu setinggi 2 meter. Di dalamnya terdapat sesaji yang terdiri beragam jenis makanan. Mulai dari ketan yang ditanak dan dipadatkan bernama Jadah, ayam panggang, hingga aneka penganan lainnya
Berada di garda depan Iman Tukidjo yang memerankan Kyai Godeg dan sang istri Dewi Sekartaji yang diperankan Sri Gianti, istri Iman Tukidjo. Dengan gerakan serba tertata seirama suara gamelan, keduanya mengantar sesaji hingga ke depan gapura yang terbentuk dari janur kuning.
"Ritual yang kami peragakan ini mencerminkan perjalanan Kyai Godeg bersama Dewi Sekartaji saat memulai kehidupan hari tua sebagai guru," ujar Iman Tukidjo bersemangat.
Seperti tergambar dalam prosesi, dua ekor ayam dimasak panggang yang sebelumnya berada di dalam tandu akhirnya dibawa oleh dua orang yang berlarian ditengah halaman. Sedangkan ratusan warga yang berada sisi kanan kiri halaman saling berebut melemparnya dengan kelapa muda.
"Siapa yang berani merebut panggang maka akan diceprot (lempar, red) dengan kelapa. Itu menggambarkan para murid Kyai Godheg yang berebut saat makan," katanya.
Selama ratusan tahun, kisah yang terkandung dalam upacara adat Ceprotan telah menjadi cerita turun temurun. Meskipun banyak pihak meyakini, tokoh Panji yang ditampilkan merupakan sosok fiktif namun sebagian warga tetap meyakini pria yang dikenal sakti mandaraguna itu adalah nenek moyang mereka.
Dalam pandangan pengamat budaya, Johan Perwiranto, beragam kisah berlatar belakang cerita Panji yang lahir di tanah Jawa merupakan bukti tingginya peradaban masa lalu. Ini sekaligus menunjukkan, penguasa Kediri kala itu adalah seorang punjangga yang mampu menghasilkan banyak karya sastra.
"Orang-orang yang berkuasa di Kediri banyak penulisan cerita. Lewat karyanya itu para pujangga kala itu memunculkan sosok bernama Panji. Catatan saya, kisah Panji ini bukan hanya populer di Jawa tapi meluas hingga Asia Tenggara," kata pemilik Sanggar Jagrag tersebut.
Di balik keunikan kisah dalam Upacara Adat Ceprotan, momen tahunan tersebut tetap menarik disaksikan. Ribuan warga selalu berdatangan untuk menyaksikan seni kolosal itu. Mereka rela berdesakan mendekat meskipun dengan resiko terkena lemparan kelapa.
Atraksi menantang itulah yang menurut Ismanto, salah seorang warga Kecamatan Bandar justru menjadi daya tarik tersendiri. Pria yang berprofesi sebagai kameraman televisi itu mengaku tidak pernah melewatkan kesempatan menonton Ceprotan.
"Lazimnya orang pasti takut dilempar kelapa. Tapi di sini penonton tidak menghiraukan itu. Asyiknya justru kalau kena lemparan," ujarnya sambil terkekeh.
Dalam perkembangannya, Upacara Adat Ceprotan bukan lagi menjadi tradisi rakyat yang hanya dinikmati masyarakat setempat. Terlebih, sejak pemerintah provinsi memasukkannya dalam kalender wisata Jawa Timur.
Sayangnya, lokasi yang digunakan untuk prosesi relatif sempit, sebab selama ini masih terpaku di halaman rumah kepala desa. Padahal, seiring upaya promosi yang digencarkan, jumlah wisatawan dipastikan terus bertambah.
Kendala inilah yang menurut Bupati Pacitan, Indartato, harus dipikirkan solusinya. Misalnya dengan memindahkan lokasi upacara ke tempat yang lebih luas. Hanya saja, wacana itu perlu dibicarakan dengan semua pemangku kepentingan.
"Saya tahu tidak semudah itu. Apalagi ini menyangkut kepercayaan masyarakat setempat. Justru itu sebaiknya dipikirkan bersama agar tradisi tetap terpelihara sementara penonton juga merasa nyaman," kata Indartato berbincang dengan detiksurabaya.com.
Setelah hampir 2 jam mengikuti keseluruhan prosesi, Upacara Adat Ceprotan pun berakhir. Dengan tubuh basah kuyup akibat lemparan kelapa, dua kelompok yang umumnya masih berusia muda berkumpul di tengah halaman. Mereka kemudian larut dalam sorak sorai menandai perhelatan usai.
(fat/fat)











































