Belawan wartawan ini awalnya melakukan aksi di depan Kantor Pemkot. Mereka membawa poster bertuliskan tuntutan agar AN Promosindo tak diizinkan menggelar event di Kota Mojokerto. Sebab, mereka terkesan arogan.
Setelah melakukan orasi beberapa saat, para wartawan diperbolehkan masuk untuk menemui Walikota Mojokerto, Abdul Gani Soehartono. Dalam pertemuan ini, Gani meminta penjelasan permasalahan yang dialami beberapa wartawan yang dipukuli saat meliput konser dangdut Sagita.
"Tak semestinya pihak promotor ini melakukan tindakan arogan itu. Secara baik-baik kan bisa," kata Gani di depan para wartawan.
Dalam penjelasan itu, Gani menyayangkan pihak keamanan AN Promosindo yang arogan dengan memukuli wartawan. Untuk itu, perwakilan Event Organizer (EO) ini langsung didatangkan di kantor Pemkot. Dalam perundingan itu, pihak EO meminta maaf kepada wartawan atas perilaku anggotanya.
"Saya pribadi dan atas nama AN Promosindo meminta maag kepada rekan-rekan wartawan tadi malam," kata Manajer Operasional, Nur Haji di hadapan wartawan.
Untuk itu, Gani yang memediasi pertemuan ini, meminta semua elemen terkait, seperti Pemkot, Polresta Mojokerto dan PWI perwakilan Mojokerto, agar menandatangani kesepatakan damai di atas surat bermaterai. Dengan begini, diharapkan tak terjadi perasaan dendam.
Sementara itu, Mochammad Chariris, salah satu wartawan media cetak yang juga terkena pukulan, akan terus meminta agar perisinan AN Promosindo di Kota Mojokerto diblacklist.
"Kalau bisa, promotor ini tak diperbolehkan disini. Mereka bukan EO, tapi preman," katanya.
Sebelumnya, konser dangdut Sagita di Lapangan Ahmad Yani Kota Mojokerto, diwarnai aksi kericuhan antara pihak keamanan promotor dengan wartawan di atas panggung. Para wartawan didorong hingga terjungkal dan baku pukul pun tak terhindarkan.
(fat/fat)