Meski penjualan madu banyak beredar di sejumlah toko atau di pasaran namun peternak lebah tidak pernah khawatir kehilangan pasar.
Susanna (35), salah seorang peternak lebah di Desa Kertasada Kecamatan Kalianget Sumenep Madura, mengaku sangat bersyukur karena pada musim kemarau produksi madu melimpah 100 persen di banding musim hujan.
"Jika musim kemarau produksi madu naik 100 persen ketimbang musim hujan dan kualitas madu lebih bagus karena kadar airnya lebih rendah, konsumen juga banyak. Bahkan saya kewalahan melayani permintaan madu," kata Susanna, peternak lebah, Jumat (21/9/2012).
Dia mengaku memulai usahanya beternak lebah pada tahun 2004. Dalam perjalanannya usaha ternak lebah terus berkembang sangat positif sehingga saat ini sudah memiliki 150 kotak lebah yang dipusatkan di samping rumahnya.
"Kalau musim kemarau hasil penjualan madu bisa mencapai Rp 8-10 juta setiap bulan. Bahkan saya kadang kewalahan karena sendirian," ujar Susanna.
Selama ini, kata dia, konsumen yang datang ada yang membeli botolan dan ada pula yang membeli madu dengan sarang madunya langsung tanpa diperas. Selain itu meminum madu langsung dengan sarangnya diyakini lebih manjur untuk menyembuhkan penyakit seperti luka dalam atau patah tulang.
"Saya membeli langsung ke peternak karena ingin madu murni dan tanpa
diperas. Itu untuk dijadikan obat terapi luka dalam seperti patah tulang," jelas salah satu konsumen, Hartono.
Karena banyaknya konsumen yang membeli langsung ke pe ternak,harga
madu pun kini naik per botol Rp 100 ribu. Padagal tahun lalu harga per botol Rp 85 ribu.
(fat/fat)










































