Cari Perhatian, Pengunjuk Rasa Sayat Kepala dengan Pisau

Cari Perhatian, Pengunjuk Rasa Sayat Kepala dengan Pisau

Muhajir Arifin - detikNews
Kamis, 13 Sep 2012 15:15 WIB
Cari Perhatian, Pengunjuk Rasa Sayat Kepala dengan Pisau
Pasuruan - Aksi nekat dilakukan Rudi Hartono, seorang pengunjuk rasa yang melakukan aksi di depan Kejaksaan Negeri (Kejari) Pasuruan, Kamis (13/9/2012). Agar tuntutannya didengarkan, ia melukai kepalanya dengan pisau dan pecahan kaca. Akibatnya, dia harus dilarikan ke rumah sakit karena pingsan akibat darah terus mengalir.

Insiden itu diawali saat seratusan warga melakukan unjukrasa di depan Kejari Pasuruan. Di tengah unjuk rasa dan orasi, pria yang merupakan korlap aksi ini tiba-tiba mengeluarkan pisau silet dan pecahan gelas. Tidak diduga, ia langsung mengiris kepalanya dengan silet. Setelah darah segar mengalir ke keningnya, ia memecahkan gelas lalu digoreskan lagi ke kepalanya.

Meski darah terus mengalir dari kepalanya, ia tetap memimpin aksi menuju DPRD Kota Pasuruan dan terus berorasi. Sampai di depan gedung dewan, ia terus berorasi dan berteriak memanggil anggota dewan.

"Ayo keluar kalian! Gedung ini bukan rumah kalian. Ini rumah rakyat!" teriaknya.

Setelah beberapa saat berteriak, tiba-tiba ia limbung dan jatuh pingsan. Beberapa orang dibantu polisi kemudian membawanya dengan mobil ke IDG RSUD dr R Soedarsosno, Kota Pasuruan, untuk menjalani perawatan.

Aksi dilakukan warga menuntut agar aparat penegak hukum dan Badan Kehormatan DPRD Kota Pasuruan segera melakukan tindakan tegas pada Amin Mahmud, seorang anggota DPRD Kota Pasuruan yang sudah ditetapkan tersangka oleh Polda Jatim atas dugaan korupsi.

Di Kejari Pasuruan, warga menuntut agar segera memproses kasus tersebut. "Kasus ini masih ditangani Polda Jatim dan belum dilimpahkan ke kami. Jika sudah dilimpahkan kami siap," ujar Kajari Pasuruan Udjijono menjawab tuntutan pengunjukrasa.

Sementara di depan gedung dewan, pengunjukrasa menuntut agar Dewan Kehormatan (BK) DPRD Kota Pasuruan segera memberikan sanksi pemecatan kepada Amin Mahmud, pria yang juga merupakan penggurus KBIH Nurul Anwar.

"Kalau masalah kode etik kita siap melakukan tindakan. Tapi kalau pidana, itu urusan polisi dan aparat penegak hukum," kata Ketua BK, Salawi saat menemui pengunjukrasa. Meski demikian pengunjuk rasa terus mendesak agar BK segera bertindak.

(bdh/bdh)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini