"Kami tidak menolak pemerintah, baik yang ada di MUI maupun Kementerian Agama. Tapi untuk masalah keagamaan, kami memiliki metode tersendiri," kata pimpinan Tarekat Anfusiyah, Kiai Nur Hadi usai memimpin salat sekaligus menjadi khatib Idul Fitri di Masjid Manzilul Abidin.
Menurut Kiai Nur Hadi, komunitas Tarekat Anfusiyah ini menentukan kalender Bulan Syawal, sejak pada akhir bulan Rajab lalu. Terlebih lagi ada peristiwa gerhana Bulan, sebagai penanda tanggal 15 Rajab. Sehingga bulan Syaban dan bulan Ramadhan digenapkan 30 hari.
Karena terjadi gerhana bulan itu, jumlah hari dalam bulan Syaban harus digenapkan. "Sesuai hadist Rasulullah, jika kita menemukan keraguan dalam menentukan awal Ramadan, maka bulan Syaban harus digenapkan 30 hari dalam kalender Qamariyah," kata Kiai Nur.
Selepas salat Idul Fitri, para jamaah Tarekat Anfusiyah ini saling berkunjung ke rumah masing-masing kerabat. Rumah Kiai Nur Hadi terbanyak mendapat tamu. Namun karena ada yang berlebaran besok atau lusa, para pengikut tarekat ini belum berhalal bi halal ke seluruh warga di desa itu.
(gik/gik)











































