"Kapal kami tidak bisa keluar masuk karena muara sering tertutup pasir," protes Sugiono Abas (56), nelayan setempat saat berunjukrasa, Kamis (26/7/2012).
Abas menjelaskan, sejak ada pembangunan dermaga aktivitas nelayan sangat terganggu. Karena jalur atau pintu masuk terjadi pendangkalan. Kondisi tersebut diduga kuat dampak dari pembangunan dermaga. Kerap kali kapal-kapal ikan milik nelayan yang akan berlabuh kandas menabrak pasir dan break water di bibir pantai.
Terakhir kali sedikitnya ada 3 kapal nelayan yang menjadi korban. Pantai Boom tidak hanya dimanfaatkan nelayan setempat. Warga dari Pulau Sapeken, Sapudi, bila berbelanja ke Banyuwangi kerap melabuhkan kapalnya di pantai yang sama. Bila muara tertutup pasir, maka kapal harus menunggu proses pengerukan pasir yang memakan waktu berjam-jam hingga selesai.
"Tak terhitung lagi berapa kapal yang jadi korban,"
Data yang dihimpun detiksurabaya.com menyebutkan, pembangunan dermaga itu direncanakan Dishub Provinsi Jatim. Dan mulai dikerjakan sejak tahun 2007 dan masih berlanjut hingga sekarang. Pembangunan dilakukan bertahap dan selama itu sudah menelan anggaran lebih dari Rp 100 miliar.
Anggaran membengkak setelah terjadi pendangkalan muara yang kemungkinan tidak diduga sebelumnya. Sebab itu, nelayan menilai ada salah perencanaan dalam proyek tersebut. Pengerukan pasir itu sendiri sudah seringkali dilakukan dengan anggaran pertahunnya yang tidak sedikit. Dan ada dugaan pengerukan pasir itu justru menjadi proyek baru.
(fat/fat)











































