"Usai Isya (meninggal)," kata ibu korban, Sholiha didampingi suaminya Mahmud saat menunggui jenazah anaknya di RSUD dr R Soedarsono, Kota Pasuruan, Rabu (18/7/2012) malam.
Meski diliputi kesedihan dan masih tampak air mata, Sholiha mengaku ikhlas dengan atas kepergian anaknya yang ditahan di Lapas Kelas II B Pasuruan kasus narkoba tersebut.
Detik-detik sebelum meninggal, Sholeh sempat meminta maaf atas perbuatannya selama hidupnya. "Tadi dia minta maaf. Sempat saya bacakan Yassin," ujarnya.
Sementara itu untuk kepentingan penyelidikan polisi atas persetujuan pihak keluarga kemudian membawa jenazah pria asal Kecamatan Rejoso ini ke RS Bhayangkara, Porong untuk divisum.
"Dibawa ke Porong untuk divisum," kata Kasat Reskrim Polres Pasuruan Kota AKP Kholil.
Sebelumnya seorang napi, Beni Suripto warga Desa Muneng Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, juga tewas gara-gara menenggak tinner bersama.
Dua napi tewas itu menenggak tinner bersama Khusairi, Muhsin Assegaf, dan Anang pada Senin (16/7/2012.
Menurut Kepala Lapas Kelas II B Kota Pasuruan Wirangsangka para napi tersebut minum teh yang dicampur tinner dengan maksud agar mabuk.
Dari hasil penyelidikan, yang mengawali menenggak teh maut itu adalah Muhsin Assegaf. Muhsin diketahui yang juga menjadi tenaga kebersihan di masjid yang ada di dalam lapas.
"Yang memberi dan mengajak napi lain minum teh campur tinner diketahui Muhsin Assegaf, seorang tenaga kebersihan masjid," kata Winarsangka.
Tinner tersebut, kata Winarsangka, diambil dari sisa pengecatan masjid lapas. Muhsin mengambil tinner tersebut utuh satu kaleng sehingga petugas lapas tidak menaruh curiga. Tinner tersebut kemudian dicampur dengan teh dan mengajak 4 napi lainnya untuk meminumnya sebagai ganti minuman keras.
"Menjelang bulan ramadan, kita lakukan pengecatan masjid. Mungkin setelah mengecat masjid, dia mengambil sebagian tinner," jelasnya.
(gik/gik)










































