Unibraw Nilai ISO 14000 Bagi RSBI Salah Sasaran

Unibraw Nilai ISO 14000 Bagi RSBI Salah Sasaran

Muhammad Aminuddin - detikNews
Jumat, 22 Jun 2012 11:11 WIB
Malang - Universitas Brawijaya menilai penerapan standar ISO 14000 sebagai syarat Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) salah sasaran. Sebab, sertifikasi sebenarnya diperuntukkan bagi organisasi atau perusahaan yang sistem operasinya berpotensi mencemari lingkungan.

"Kalau rumah sakit cocok memiliki standar itu," kata Tri Wahono dalam release yang dikirim kepada detiksurabaya.com, Jumat (22/6/2012).

Menurut Dosen Sistem Manajemen Mutu FTP Universitas Brawijaya Tri Wahono, standarisasi bagi RSBI justru akan semakin memberikan beban kepada sekolah. Akibatnya, mereka tak fokus pada kualitas proses belajar mengajar.

"Energi hanya dihabiskan untuk mengejar sertifikat ISO," tuturnya.

Lebih dari itu, lanjut dia, hampir semua sekolah yang berstandar RSBI hingga saat ini tidak mampu memenuhi kualitas terutama dari segi sasaran mutu dan target yang harus dicapai.

Salah satu asaran mutu dan target yang belum bisa tercapai oleh RSBI hingga saat ini adalah kualifikasi guru pendidikan S2 bagi guru SD, SMP dan SMA.

"Berdasarkan ketentuan mendiknas tentang RSBI kualifikasi S2 untuk guru SD sebanyak 10 persen, SMP sebanyak 25 persen, dan SMA sebanyak 30 persen. Sisanya, berada di jenjang S1," sambungnya.

Ia menambahkan, dalam kenyataannya sebanyak 1.305 RSBI bagi SD, SMP dan SMA tidak ada yang mampu memenuhi kualifikasi pendidikan tersebut.

"Perlu adanya pelatihan bertahap bagi SDM internal, maka akan terjadi peningkatan kemampuan manajerial. Jika kemampuan manajerial sudah baik dan bisa mencapai target-target yang sudah ditentukan, maka sekolah bisa mengajukan standart ISO," imbuhnya.

Tri Wahono mengatakan, penerapan standar ISO 14000 kurang sesuai bagi sekolah itu dan bisa diganti dengan ISO 10015 yang merupakan panduan pengelolaan SDM.
Memang ISO 10015 bukan ditujukan untuk keperluan sertifikasi, namun panduan untuk pengelolaan SDM.

"Jadi kenapa harus diberlakukan jika rumit dan mengeluarkan budget besar, namun pada akhirnya sia-sia karena tidak membawa dampak yang positif," paparnya.

(fat/fat)
Berita Terkait