Dengan membawa truknya yang bermuatan tebu, ratusan petani APTR ini melakukan orasi di depan PG Gempolkrep di Jalan poros Mojokerto - Jombang. Mereka menuntut agar pihak manajemen PG segera membuka lagi aktivitas gilingnya.
Sebab, jika tak dibuka hari ini, kualitas remdemen (kadar gula) akan turun. Selain itu, para petani akan merugi besar. Jika dikalkulasikan perharinya, petani akan merugi Rp 3.998.800.000. Untuk kerugian biaya angkutan perhari mencapai Rp 395.500.000.
Menurut salah satu anggota APTR, Mardianto, pihaknya menyesalkan jika pihak PG Gempolkrep yang tersangkut kasus limbah dan aktivitas gilingnya ditutup, memberikan dampak besar bagi para petani. Pihaknya meminta agar pihak PG segera menuntaskan permasalahan limbah.
"Kenapa kita yang seolah-olah dikorbankan. Seharusnya pihak PG harus bisa mengatasi permasalahan limbah itu. 4000 lebih petani tebu disini terkatuing-katung," katanya di sela aksi.
Aksi ini diwarnai aksi dorong dengan aparat kepolisian. Mereka meminta Yadi Yusriadi, Administratur PG Gempolkrep keluar untuk memberikan pernyataan mengenai ditutupnya aktivitas giling.
Unjukrasa ini menyebabkan arus lalu lintas jalan poros Jombang - Mojokerto macet total hampir 5 Km. Arus lalin dari Jombang ke Surabaya dialihkan ke By Pass Kota Mojokerto. Sementara sebaliknya, dialihkan ke Kecamatan Kemlagi.
(bdh/bdh)










































