Selain membawa pocong, belasan mahasiswa ini mendatangi lokasi dengan membawa karangan bunga, serta menutup mata mereka dengan kain hitam sebagai bentuk bela sungkawa mereka atas matinya hati nurani wakil rakyat. Karena, dewan membangunan gedung baru senilai Rp 27 miliar di tengah-tengah penderitaan rakyat.
Korlap aksi Benu Muharto dalam orasinya mengatakan, para wakil rakyat sudah tidak lagi mengedepankan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan amanat konstitusi.
"Para wakil rakyat telah mengingkari sumpah dan janjinya kepada rakyat pada saat mereka berkampanye," tegasnya.
Sampai hari ini tandas Benu, DPRD Lamongan mandul kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat. Malah di tengah derita rakyat, mereka asyik menikmati fasilitas barunya yang serba mewah.
"Kami hanya mampu berdoa mudah-mudahan Tuhan menunjukkan jalan yang benar bagi para wakil rakyat," ungkapnya.
Di akhir aksinya, para mahasiswa ini kemudian menghadiahkan 2 pocong dan karangan bunga. Kedua kado tersebut ditinggalkan di perempatan Gedung DPRD Lamongan karena mahasiswa tidak bisa masuk untuk memberikan hadiah tersebut kepada anggota DPRD Lamongan.
Selain meninggalkan 2 pocong dan karangan bunga, mahasiwa juga membuat grafiti di jalan dengan tulisan "Matinya Nurani DPRD". Setelah itu, mereka membubarkan diri dengan tertib dengan kawalan ketat petugas kepolisian.
(bdh/bdh)










































