"Sebenarnya (serangan ubur-ubur, red) tidak terlalu berbahaya. Asalkan segera mendapat pertolongan medis," ujar Ucuk Priyo Jatmiko, Asisten Manajer Umum PT Eljohn Tirta Emas Wisata, Minggu (17/6/2012) pagi.
Terkait antisipasi sengatan terhadap wisatawan, terang Ucuk, perusahaan pengelola Kawasan Wisata Pantai Teleng Ria tersebut telah melakukan antisipasi. Yakni menyampaikan peringatan sejak wisatawan tiba di pintu masuk hingga selama mereka berada di pantai.
Di sisi lain, pihaknya juga menyiapkan peralatan medis serta personel khusus yang bertugas memberikan pertolongan pertama. Pengelola juga memasang peringatan tertulis di sepanjang pantai.
Jika terjadi kondisi terburuk, lanjut Ucuk, pihaknya telah menyiapkan armada khusus untuk merujuk pasien ke rumah sakit terdekat. Langkah ini baru diambil jika dampak sengatan ubur-ubur tergolong serius.
"Tentu saja semua biaya perawatan kita tanggung," papar Ucuk.
Informasi yang dihimpun detiksurabaya.com, ubur-ubur api biasanya muncul ke permukaan bersamaan datangnya musim kemarau. Hewan-hewan yang mengapung itu terbawa angin hingga ke pantai dan terdampar di pasir.
Kasus sengatan, biasanya diawali rasa penasaran orang untuk memegangnya. Pasalnya, bentuk fisik ubur-ubur berupa gelembung dengan beragam warna. Sehingga wisatawan tertarik menyentuhnya.
Padahal, jika kulit manusia terkena belalai yang menjulur seperti rambut, bisanya akan menyebar ke seluruh tubuh. Gejala paling ringan berupa rasa panas mirip kulit terbakar. Namun jika penderita tidak memiliki stamina prima, dapat berujung pingsan.
"Hari Minggu kemarin ada 5 orang yang tersengat," tambah Dipa, petugas Life Guard kepada wartawan di lokasi.
(fat/fat)











































