Kecelakaan yang mengakibatkan empat orang luka-luka ini terjadi sekitar pukul 09.30 Wib, Rabu (13/6/2012). Para Korban yakni Suwandi (44), sopir bus Damri asal Bali, Sahlan (46), penumpang bus asal Desa Kalibaru Kulon, Banyuwangi. Dua korban lainnya, ibu dan anak pengendara motor yakni Istiyana (50) dan Dimas Mukti Wahyu Ilahi (14), asal Desa Benculuk Banyuwangi.
Para korban dirawat di Puskesmas Benculuk dan satu diantaranya dirujuk ke rumah sakit terdekat. Dari semua korban, luka paling parah justru dialami Sahlan. Bahu kanannya sulit digerakkan, diduga mengalami patah tulang dalam. Dahi kirinya juga robek kecil dan harus diperban. Saat kecelakaan terjadi, Sahlan terpental keluar dari kaca depan Bus sejauh 5 meter.
"Bahu saya sulit digerakan dan sakit, mungkin tulangnya patah," kata Sahlan sembari meringis kesakitan, ditemui detiksurabaya.com, di UGD Puskesmas Benculuk.
Kapolsek Cluring, AKP Agung Setyobudi mengatakan, kecelakaan itu berawal dari bus yang melaju dari arah Selatan. Tiba di lokasi sopir bus dikejutkan dengan pengendara Vario bernopol P 6906 YO dari arah sama tiba-tiba belok ke kanan hendak masuk puskesmas. Karena jarak begitu dekat, sopir bus membanting setir ke kanan.
Brak..! Bus menghantam keras gapura beton setebal satu meter. Bodi depan bus tersebut ringsek dan menancap di gapura. Kaca depannya pecah berantakan di selokan dekat gapura.
"Dari keterangan sejumlah saksi mata, sepeda motor memotong jalan secara mendadak," kata Agung, kepada detiksurabaya.com di lokasi.
Meski begitu, sepeda motor yang diketahui dikendarai Istiyana dan Dimas, anaknya tetap tertabrak bagian samping depan bus. Ibu dan anak itu tersungkur ke sisi kanan jalan. Istiyana mengalami luka di hidung, dahi, patah tulang tangan kanan, serta kuku jari manis copot. Sedangkan Dimas hanya luka memar.
"Saya tadi mau kontrol gigi diantar Ibu saya," ujar Dimas dengan wajah pucat pasi.
Sementara Suwandi, sopir bus mengisahkan, dirinya terpaksa banting setir ke kanan untuk menghindari korban jiwa. Terlebih jarak antara bus dan sepeda motor tidak lebih dari 2 meter. Dari kejadian itu, Suwandi sempat tergencet setir dan baru bisa ditolong warga 15 menit kemudian. Meski dia juga luka-luka, Suwandi tetap bersyukur karena tidak ada korban jiwa.
"Saya terpaksa banting setir untuk hindari korban jiwa," sebutnya sambil berbaring di UGD Puskesmas Benculuk.
Bus sendiri baru dievakuasi beberapa jam kemudian. Dibutuhkan waktu yang lama karena roda bus tak bisa bergerak sama sekali. Mekanik bahkan harus mengelasnya.
(fat/fat)










































